Saya punya seorang kawan yang perokok berat, tidak pernah terlihat dirinya tanpa rokok. Sambil berkelakar pernah saya mengatakan kepadanya “Enggak takut mati muda?”. Kawan saya menjawab enteng “Mati ditakutin, semua orang juga bakalan mati!” Ya sudah pikir saya.
Belum lama saya bertemu kawan saya itu, dan sekarang ia sudah tidak lagi merokok. Seharian saya ‘jalan’ bersamanya, tak sebatangpun rokok disulutnya.
Saya yang agak penasaran kemudian bertanya “sudah tidak merokok lagi ?”, “iya, udah berhenti”, jawabnya. “Kenapa?” saya bertanya. Dulu ia tidak takut mati, sekarang kok bisa berhenti.
Kemudian kawan saya itu bercerita bahwa suatu hari Minggu pagi yang cerah ketika ia sedang asyik merokok dan membaca koran di beranda rumah, anak perempuannya berusia 9 tahun menangis tiada henti. Dengan keheranan ia bertanya kepada anaknya yang cantik itu, “mengapa menangis?”. “Papa, papa akan mati”, anaknya menjawab sambil tidak bisa menghentikan tangisannya.
“Enggak, papa enggak akan mati”, kata temanku
“Ya, papa akan mati!”, tangis anaknya semakin sedih
“Lihat papa
Kemudian anak perempuannya yang cantik dan lucu menunjuk kepada rokok ayahnya, dan menunjuk artikel di koran yang menyebutkan bahwa merokok akan menyebabkan kanker, tangisnya semakin pilu :
“Papa akan mati, dan enggak akan ada lagi ketika aku menikah nanti!”, kini tangisnya menyerupai raungan.
Pemirsa Bali Post yang saya cintai, kalimat terakhir anaknya itulah yang menyebabkan ia berhenti merokok pada saat itu juga. Perasaan bahwa ia menyebabkan kesenggsaraan yang amat sangat bagi putrinya yang cantik dan mungil ini membuatnya mempunyai alat bantu (leverage) untuk berhenti merokok.
Kenangannya akan kesedihan putrinya sangat kuat dan intense sehingga mengalahkan kenikmatannya merokok.
Pemirsa, menurut Anthony Robbins (AR), semua tindakan manusia motivasinya dua, menghindari kesengsaraan (fear) dan mencari nikmat (greed).
Contoh, bagi yang overeating, mungkin fear tampak gemuk dan tidak menarik tidak cukup kuat untuk mengalahkan kenikmatannya makan makanan berlemak, tapi coba bayangkan diri kita terkena stroke, lumpuh sebelah, terkapar di ranjang bertahun-tahun, mau mati juga enggak bisa, merepotkan orang sekeluarga. Nah cukup kuat tidak fear-nya untuk menghentikan kebiasaan overeating tersebut.
Dengan memanipulasi fear and greed, kita bisa mengubah kebiasaan buruk dan menambahkan kebiasaan baik, sehingga akumulasinya adalah prestasi yang lebih baik dan level hidup yang lebih berkualitas.
Pemirsa, di tanggal 11 Juni 2005, Lestari Institute akan menghadirkan pengalaman yang dahsyat bagaimana teknik-teknik memanipulasi otak kita seperti fear and greed di atas dapat merevolusi hidup kita menjadi jauh lebih baik. Seminar sehari Life Revolution akan dibawakan oleh Tung Desem Waringin (
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat!



