Pemirsa Bali Post yang saya cintai, kolom kali ini menindaklanjuti kolom saya minggu lalu, terutama menyikapi surat dari Ibu Nita, yang mempunyai dilema.
Kalau tidak berhutang, tidak bisa memiliki barang-barang konsumtif seperti rumah, mobil, motor, televisi, berlian dan lain-lain. Kalau berhutang bebannya berat. Jadi harusnya bagaimana? Begitu kira-kira persoalan ibu Nita.
Pemirsa, persoalan ibu Nita saya pikir merupakan representasi persoalan sebagai terbesar masyarakat kita.
Belum lama berselang, saya bertransaksi di sebuah bank, dan kebetulan staff counter yang melayani saya adalah kawan-kawan lama saya. Karena sedang sepi dan tidak ada nasabah lain selain saya, kita sempat bergosip, dan permasalahan yang dihadapi kurang lebih serupa. Nyicil atau tidak nyicil, bagaikan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati.
Minggu lalu saya mencoba mengkalkulasi, berapa sebenarnya ‘biaya’ yang kita keluarkan akibat ‘gaya hidup’ berhutang dibandingkan dengan ‘gaya hidup’ menabung. Dan kalau saya tidak salah menghitung, jika life style berhutang tadi diteruskan sampai dengan 10 tahun saja, maka opportunity lost kita mencapai angka yang cukup fantastis, 1,5 M. (untuk lebih jelas, silakan membaca kolom Money & You, edisi 10 Juli 2005).
Kali ini, perkenankan saya memberikan perspektif yang lain, untuk menyikapi fenomena nyicil atau tidak ini.
Kata orang : “hidup adalah pilihan” (life is a choice). Kita sebagai manusia bebas menentukan sendiri pilihan-pilihan tersebut. Dan setiap tindakan membawa konsekuensi tertentu (every actions bring concequences).
Menurut saya, hasil kumulatif dari tindakan-tindakan kita (dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu itu), pada akhirnya menentukan jenis dan kualitas hidup yang kita jalani.
Contoh minggu lalu, dua tindakan yang berbeda, nyicil TV dan menabung (walaupun pada prinsipnya adalah sama-sama menyisihkan Rp.500rb/bulan) akan mengakibatkan konsekuensi yang berbeda. Secara kasaran saya coba kuantifisir sehingga mendapatkan besaran opportunity lost sebesar 1,5M.
Pemirsa, jenis dan kualitas hidup kita, merupakan hasil kumulatif pilihan-pilihan tindakan kita.
Misalnya, pilihan tindakan untuk mengubah pola makan secara sehat, dibandingkan dengan makan secara asal-asalan, akan menghasilkan dua jenis manusia yang berbeda.
Pilihan membeli barang konsumtif secara kredit dibandingkan dengan menabung, akan menghasilkan dua jenis kondisi keuangan yang berbeda.
Pilihan mengganti handphone dibandingkan dengan mengikuti seminar, pilihan dugem dibandingkan dengan membeli buku, pilihan mengganti mobil dengan sekolah lagi. Kesemuanya akan menghasilkan jenis dan kualitas hidup yang berbeda.
Jadi, menurut saya, hidup merupakan pilihan. Tanpa mengabaikan kuasa Tuhan, sebagian besar jenis dan kualitas hidup kita adalah akibat dari pilihan tindakan-tindakan kita.
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat !



