Baru-baru ini kita melihat bahwa kurs rupiah mengalami penguatan yang signifikan terhadap US Dollar.
Ketika Pak Aburizal Bakrie masih jadi Menko Ekuin, rupiah sempat diperdagangkan dengan kisaran 11,500 per US Dollarnya. Dan sekarang kursnya berada di kisaran 9,100.
Nah, setiap terjadi pergerakan kurs yang signifikan seperti ini selalu ada pertanyaan, “bagaimana, beli dollar atau tidak ?”
Orang mau beli dollar di 9,100 dengan harapan dollarnya akan menguat lagi menjadi 10,000 atau lebih. Jadi ada untung!
Jika ada pertanyaan seperti ini, jawaban saya selalu standar “ mau investasi atau spekulasi ?”
Bapak/Ibu sekalian, ada perbedaan yang mendasar antara berinvestasi dengan berspekulasi.
Berinvestasi selalu bertujuan menghasilkan pertumbuhan/growth. Kecil ataupun besar, ada pertumbuhannya. Nah resikonya kemudian mengikuti prinsip “higher risk, higher return”.
Bagi kita yang berinvestasi, tujuan utamanya adalah bagaimana mengalahkan prinsip “higher risk, higher return” tersebut. Jadi kalau bisa, low risk, high return. Resikonya kecil untungnya besar. Dan kalau memungkinkan menggunakan faktor leverage sebesar mungkin. Modal kecil, resikonya kecil, untungnya yang besar. That is the name of the game.
Nah, membeli dollar, tidak memenuhi syarat berinvestasi. Karena tidak menjanjikan pertumbuhan.
Kalau naik untung, kalau turun buntung. Menurut saya namanya bukan berinvestasi tapi berspekulasi. Hampir sama dengan pergi ke kasino.
Dan kesempatannya fifty fifty. Tidak ada yang bisa menjamin dollar akan naik terus, tidak ada yang bisa menjamin dollar akan turun terus (kecuali anda pemain sangat besar dan mengetahui inside information).
Juga sedikit leverage yang bisa kita dapatkan. Maksudnya, jika kita punya modal/kapital 100 juta. Maka kira-kira kita bisa ‘berspekulasi’ membeli sekitar 11 ribu USD (dengan kurs 9,000-an). Kalau USD menguat 100 point, kita untung 100 x 11,000 = 1,100,000; kalau USD melemah lagi 100 point kita rugi sebesar yang sama.
Tidak ada leveragenya!
Kerugiannya, kita membeli dengan kurs jual (kurs jual lebih tinggi dari dapa kurs beli), dan kita menjual dengan menggunakan kurs beli. Selisih kurs jual dan kurs beli akan bervariasi tergantung pasar. Di sini kelihatan, bahwa kemungkinan untungnya 50:50, tapi belum apa-apa sudah menanggung rugi selisih kurs.
Ini berbeda dengan bank atau pedagang valuta asing. Dengan modal 100 juta, maka 1 hari dia bisa jual beli katakanlah 10 kali. Maka omzet transaksinya mencapai 110,000 USD. Ada leverage 10 kali lipat. Jika setiap transaksi ada untung 10 point (dari selisih kurs jual dan beli), maka sang bank atau pedagang valua asing mendapatkan keuntungan 10 x 110,000 = 1,100,000. Pasti !
Jadi silakan pilih, mau berinvestasi atau berspekulasi ?
Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi. Salam dahsyat!