Bapak/Ibu pembaca Money&You, ketika baru selesai sekolah menengah atas, saya bercita-cita untuk masuk perguruan tinggi paling top di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung. Jurusannya-pun saya pilih yang paling prestise pada waktu itu, Teknik Informatika.
Ternyata ketika Sipenmaru (waktu itu namanya Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) saya gagal diterima di ITB. Saya ‘hanya’ diterima di fakultas ekonomi Universitas Indonesia.
Kegagalan itu ‘menghancurkan’ saya. Saya jadi minder, tidak percaya diri. Saya tertekan. Saya menganggap telah menjadi ‘pecundang’.
Saya menganggap semua orang yang dari ITB jauh lebih pintar daripada saya. Saya adalah orang buangan. Masa depan saya hancur.
Kepercayaan diri saya baru mulai terbangun kembali ketika masuk di pelatihan manajemen di BCA (tempat saya pertama kali bekerja). Dimana saya satu grup bersama lulusan-lulusan dari universitas-universitas terbaik di Indonesia dan bahkan dengan MBA dari luar negeri. Ternyata saya bisa ‘perform’ cukup baik. Tidak kalah dengan kolega-kolega saya waktu itu.
Saya belajar kemudian bahwa sebenarnya tidak ada kata gagal. Selama kita mau belajar dan bangkit kembali, akan selalu ada kesempatan lain.
Bahkan, sebenarnya manusia didesain untuk belajar dari kegagalan. Dalam berbagai seminar atau pelatihan yang saya adakan, saya selalu bertanya, “siapa yang bisa naik sepeda tanpa pernah terjatuh?”. Hampir tidak ada yang mengangkat jari.
Manusia belajar dari kegagalan.
Bayi belajar berjalan dengan terjatuh dahulu. Tetapi kemudian ia belajar untuk lebih berhati-hati. Dan terus menerus mencoba. Sampai akhirnya ia bisa berjalan.
Apa jadinya, jika terhadap bayi kita yang setelah jatuh untuk yang ke-5 kalinya, kita berkata “sudahlah, lupakan saja, kamu memang tidak berbakat untuk berjalan!”
Namun demikian, sistem sosial kita, sistem pendidikan kita kemudian tidak mentoleransi kegagalan. Di sekolah kalau kita gagal, hukumannya tidak naik kelas. Kalau tidak naik kelas, kita kemudian dicap sebagai orang yang gagal. Kalau sudah begitu, jarang yang seberuntung saya bisa mengembalikan kepercayaan diri.
Ikut Ujian Nasional, kalau gagal, tidak ada kesempatan mengulang. Anda dicap ‘gagal”.
Di sekolah dan di sistem sosial kita setelah dewasa, orang dilarang berbuat salah, orang yang salah adalah orang gagal. Yang gagal tidak mempunyai masa depan. Sistem kita tidak mentolerir orang berbuat kesalahan.
Karenanya, masyarakat kita penuh dengan orang yang ‘hati-hati’. Saking takutnya berbuat salah, maka lebih baik tidak berbuat apa-apa. Saking takutnya kalah, maka lebih baik tidak menang.
Dalam bisnis, kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari permainan. Dan sebenarnya tidak ada kata gagal, sepanjang kita belajar dari kesalahan kita. Selalu saya katakan dalam setiap seminar dan pelatihan, “boleh gagal, asal jangan mati!”.
Manusia belajar dengan berbuat kesalahan. Lebih baik mencoba dan gagal, daripada “success of doing nothing”.
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat.



