Beberapa waktu yang lalu, ke kantor saya datang seorang ‘klien’. Ia mengeluh bahwa dirinya terjerat oleh ‘hutang jahat’. Hutang itu disebutnya jahat karena tidak menghasilkan. Hutangnya adalah kredit yang diambilnya dari sebuah bank dan digunakannya untuk membangun rumah tinggal.
Ibu itu kemudian memutuskan untuk sesegera mungkin melunasi hutangnya yang jahat itu.
Karena ingin sesegera mungkin melunasi hutangnya, sekarang ini seluruh pendapatan dari usahanya semaksimal mungkin dibayarkan ke bank yang memberinya pinjaman.
Saya mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan rencananya untuk segera melunasi hutang tadi. Sama sekali tidak ada yang salah.
Namun jika seluruh pendapatannya dialihkan untuk membayar hutang-hutangnya, apakah cash flow usahanya tidak menjadi terganggu. Apakah pengembangan usahanya tidak menjadi mandek karena seluruh cash flow-nya dialihkan. Bagaimana dengan opportunity lost-nya.
Mana yang lebih optimal, digunakan untuk mempercepat pembayaran hutang rumah atau membeli mesin untuk produksi ?
Atas pertanyaan-pertanyaan saya di atas, sang ibu bukannya ‘tercerahkan’, malahan menjadi semakin bingung.
“Jadi, baiknya harus bagaimana?”, keluhnya.
Bapak/Ibu sekalian, kisah diatas saya ceritakan karena merupakan problema klasik untuk jenis usaha kecil dan menengah.
Problem yang sering kita temui adalah tidak adanya pemisahan yang jelas antara keuangan pribadi/rumah tangga dengan keuangan usaha.
Kredit Modal Kerja dibelikan rumah tinggal. Kemudian menyesal sehingga pendapatan dari usaha dibayarkan untuk melunasi rumah tinggalnya. Resikonya adalah kegiatan usahanya menjadi terganggu.
Beberapa teman saya merasa bingung karena uangnya tiba-tiba banyak (karena dagangannya laku), dan karena merasa uangnya banyak lalu mulai membeli ini dan itu (mobil terutamanya). Apalagi dengan iming-iming DP murah dan bunga ringan. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya yang dibelanjakan bukanlah 100% uangnya. Masih ada hutang ke supplier (hutang dagang) yang belum jatuh tempo.
Selama bisnisnya lancar, omzetnya terus bertambah, defisit arus kasnya-nya tidak kelihatan. Karena kewajiban ke supplier yang jatuh tempo selalu bisa dibiayai oleh omzet hari itu. Sebenarnya kondisi ini mirip gali lubang tutup lubang.
Ketika bisnis melesu, teman saya itu tidak mempunyai cukup cash untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang jatuh tempo. Alhasil, mobil barunyapun harus dijual. Karena jual cepat, jualnyapun merugi.
Problemnya adalah karena tidak dipisahkannya antara uang pribadi dan uang usaha. Jadinya keperluan pribadinya dibiayai oleh omzet usahanya.
Saya mencoba untuk disiplin. Saya mendapatkan gaji dari perusahaan saya. Maka yang saya gunakan untuk keperluan pribadi dan rumah tangga adalah sebatas gaji saya. Tidak bisa lebih.
Seperti kata istri saya, ‘uangmu uangku, uangku bukan uangmu!”.
Uang kita merupakan uang perusahaan (yang kita pakai jika perusahaan merugi), tetapi uang perusahaan belumlah sepenuhnya merupakan uang kita (nanti jadi sah menjadi uang kita atas pembagian laba/deviden).
Dengan demikian mudah-mudahan kita terhindar dari sindrom ‘kaya mendadak’ sehingga kemudian menjadi sangat konsumtif.
Mudah-mudahan bermanfaat. Salam Dahsyat.