Masih menyambung cerita saya minggu lalu atas presentasi saya mengenai ‘wealth’ di hadapan para rotarian, dengan susah payah saya mempertahankan argumen saya bahwa menabung (save) diperlukan untuk mencapai kesejahteraan. Bahwa saving adalah langkah pertama menuju financial freedoom. Bahwa adalah sah untuk membelanjakan income kita (spend) namun tidaklah bijaksana jika belanja kita dibiayai oleh hutang.
Sebaliknya jika tidak kita koreksi gaya hidup belanja melalui hutang, maka kita akan semakin masuk pada jurang pemiskinan. Kita tidak bisa berhenti bekerja. We can not afford to have a retirement.
Jadi dua orang dengan level income yang sama dengan dua gaya hidup yang berbeda bisa end up dengan nasib yang sama sekali berbeda. Bumi dan langit!
Titik awalnya adalah saving!
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana caranya agar bisa menabung?
Biasanya habis bulan habis gaji. Tidak pernah ada sisa untuk ditabung.
Komentar yang paling sering adalah “bagaimana bisa menabung. Gaji pas-pasan, biaya tambah hari tambah mahal”
Bapak/Ibu sekalian, percayalah hampir semua orang akan setuju dengan komentar di atas. Dan saya sudah sangat sering mendengar kalimat di atas. Klasik!
Saya mengajak Bapak/Ibu sekalian melihatnya begini. Bayangkan ketika awal karir kita bekerja, atau bahkan ketika masih sekolah.
Tahun 1990-an saya masih kuliah, uang saku saya 250ribu-an. Termasuk untuk bayar kos, makan, bensin dan pacaran. Tidak berlebih sih, namun saya tidak kelaparan. Masih bisa nonton sesekali, walaupun harus nonton siang cari karcis yang murah, dan makan di warung padang. Hanya bisa sesekali makan di Kentucky Fried Chicken.
Ketika pertama kali kerja, income saya naik drastis 3 kali lipat. 750 ribu/bulan.
Kalau saya flash back, seharusnya ketika itupun seharusnya saya bisa save 500 ribu-an sebulan. Atau sekurangnya 200 ribu-an, jika saya lebih sering nonton dan lebih sering makan di luar.
Demikian seterusnya, karir saya menanjak. Income pun menanjak.
Namun yang terjadi adalah, naiknya income selalu diikuti dengan meningkatnya gaya hidup. Life style-nya meningkat. Tidak ada sisa lagi untuk ditabung. Bahkan mulai berani menggunakan kartu kredit.
Jadi langkah awal untuk bisa menabung adalah menunda kesenangan. Bukan tidak boleh bersenang-senang. Tetapi menunda.
Bertahanlah untuk bisa hidup dengan life-style minimal satu level dibawah kapasitas kita. Jika income kita naik, bertahanlah dulu dengan gaya hidup kita yang dulu. Jangan buru-buru ganti handphone. Selisihnya bisa ditabung. Jika income kita naik lagi, boleh naik life-stylenya tapi pertahankan satu level di bawah. Bertahanlah untuk tidak buru-buru ganti mobil. Demikian seterusnya. Saya percaya jika kita disiplin, semua orang akan mampu membentuk tabungan, sehingga kemudian mampu berinvestasi. Kemudian lambat laun return dari investasi-nya semakin besar-semakin besar, dan ada yang dire-investasikan. Dan akhirnya pasive income-nya mengalahkan living expensesnya.
Pensiun ? siapa takut?
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat!



