Bapak/ibu sekalian, faktor permodalan selalu dijadikan kambing hitam tidak berhasil bangkitnya para entrepreneur, terutama di sektor usaha kecil dan menengah.
Seorang wartawan mewawancarai saya, katanya “bagaimana komitmen bank untuk memberikan modal kepada usaha kecil dan menengah”. Begitu lancar pertanyaannya seolah sudah menjadi kebiasaan.
Ya, kebiasaan untuk mengaitkan kegagalan sebuah bisnis dengan terbatasnya modal usaha. Karena itu, setiap menteri yang terkait dengan pengembangan usaha kecil selalu mempunyai program kerja “menyediakan modal usaha”.
Saya mempunyai pengalaman ketika berbisnis furniture.
Biasanya saya hanya membeli furniture mentah dari para ‘petani mebel’ di Jepara sana. Saya membeli dari petani karena harganya lebih murah dibandingkan membeli dari pabrikan.
Setelah cukup lama berdagang dengan cara demikian, saya berpikir, lebih baik saya memproduksi sendiri saja. Untungnya pasti akan lebih besar.
Mulailah saya menyewa workshop, membeli peralatan, membeli bahan baku dan memperkejakan tukang.
Anehnya, ongkos saya produksi lebih mahal dibandingkan dengan harga beli saya. Jadi alih-alih untung, saya buntung.
“Mungkin saya tidak efesien!”, demikian pikir saya. Maka saya mulai melakukan efesiensi. Tidak berhasil juga. Cost saya sebagai produsen lebih mahal dibandingkan dengan membeli langsung dari para ‘petani’ disana.
Setelah setahun lebih berusaha, akhirnya saya menyerah. Pabrik saya tutup, saya memilih membeli saja. Lebih sederhana, lebih murah.
Supplier saya di Jepara sana, dagangannya laku. Sibuk sekali, karyawannya banyak. Namun selalu kesulitan cash flow. Dan saya dengar belakangan usahanya bangkrut.
Feeling saya, supplier saya tidak menghitung ongkos produksi dengan benar. Mungkin ia lupa menghitung waste bahan baku, lupa menghitung biaya sewa, biaya bunga (kalau ada), dan penyusutan. Penentuan harganya didasarkan dari harga jual ‘tetangga sebelah’. Dan karena kemudian ditekan-tekan dan dibanding-bandingkan oleh pembeli, supplier saya terus menurunkan harga.
Mungkin ini yang menyebabkan harga jualnya lebih rendah dibandingkan dengan produksi pabrikan besar. Mungkin ini sebabnya saya tidak bisa memproduksi lebih murah dibandingkan dengan membeli jadi saja.
Bapak/Ibu sekalian, kegagalan dan keberhasilan UKM tidaklah semata hanya karena terbatasnya modal. Saya lebih cenderung mengatakan bahwa kebanyakan pelaku bisnis kecil tidak dilengkapi dengan pengetahuan dan tools yang memadai untuk mengendalikan bisnisnya.
Bagaimana bisa tahu untung, kalau kita tidak tahu berapa total stok pada toko kita. Berapa dari stok tadi yang merupakan bad stock. Bagaimana bisa untung kalau menghitung cost tidak akurat. Bagaimana bisa bertahan jika tidak punya alat untuk mengontrol tagihan. Dan seterusnya.
Bisnis merupakan sebuah sistem yang kompleks. Permodalan merupakan sub-sistem. Masih banyak sub-sistem lain yang perlu diketahui dalam mengelola sebuah bisnis. Bagaimana accounting sistemnya, marketing-nya, legal, cash flow dan produknya.
Kemampuan mengelola semua sub-sistem tadilah yang menjamin keberhasilan sebuah UKM. Jika fokusnya hanya pada modal, uang segunungpun habis.
Semoga bermanfaat. Salam Dahsyat!



