pertanyaan tentang persaingan kerja
Bapak Alex
Saya sering membaca artikel anda di Bali Post dan saya banyak
belajar dari situ.Saya ingin bertanya,Anda kan sudah lama bekerja dan
berusaha di Bali,tentunya sudah sedikit banyak mengetahui karakter
pekerja orang bali.Saya ingin tahu bagaimana tanggapan Anda mengenai
pekerja orang bali yang mana disatu sisi harus berhadapan dg
persaingan kerja yg semakin ketat sementara disisi lain ada kerja2
adat yg harus dilakukan,mungkin anda sering dengar pekerja orang bali
harus cuti atau minta izin tidak kerja hanya utk kerja adat yg
waktunya berhari-hari. Apakah orang bali masih bisa bersaing dg
kondisi seperti ini?
From:”Bayu Indrajaya”
Email :bayu.indrajaya@gmail.com
IT’S ALL ABOUT PRIORITY!
Mas Bayu, saya percaya bahwa sukses itu tidak tergantung pada etnis, tidak tergantung pada agama. Saya tidak percaya ungkapan seperti misalnya, “orang chinese pandai berdagang”, “orang medan suka menipu”, “orang yahudi pelit” dan seterusnya.
Orang Cina pandai berdagang karena sejak kecil dididik oleh orang tuanya. Sejak kecil dibesarkan di lingkungan pedagang. Saya sejak kelas 4 SD kalau pulang sekolah kerjanya menunggu toko, jadi kasir. Jadi pengalaman dan pelajaran berdagang sudah dimulai sejak dini.
Partner bisnis saya yang terpercaya berasal dari Medan. Dan saya tidak kenal dengan satupun orang Yahudi. Apakah mereka pelit? Saya percaya yang pelit bukan cuma Yahudi saja.
Jadi sukses, karir dan profesi tidak ada hubungannya dengan etnis,adat dan agama.
Baru-baru ini saya mencoba memperbaiki kebun saya yang rusak. Saya memanggil ‘gardener’ yang dulu membuat kebun saya. Maksudnya tolong diservis ulang, tanaman yang rusak diganti. Setelah ditelpon, gardener saya berjanji di hari Sabtu akan survey.
Ditunggu hari Sabtu tidak datang. Setelah dua minggu kemudian juga tidak datang lagi. Saya menelpon dan mengomel. Baru kemudian dia datang. Alasannya istrinya sakit.
Setelah datang, keesokan harinya membawa beberapa tanaman baru dan memperbaiki kebun saya. Namun pekerjaannya belum selesai, lotus pesanan saya belum dibelikan, dan pojok halaman saya masih terbengkalai. Dan sampai sekarang, hampir dua minggu kemudian dia belum datang lagi.
Mungkinkah saya akan memberinya ‘order’ lagi?
Tadi pagi saya menginterview seorang calon karyawan. Orang Bali. Lulusan dari Udayana. Lulus sarjana dalam 5 semester. IPK-nya 3,3. Sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan besar, dan berminat bekerja di BPRLestari karena tertarik dengan sistem magang dan pelatihannya.
Tapi saya tantang bahwa kalau bekerja di Lestari gajinya tinggal separuh. Dan dengan yakin ia mengangguk dan berkata “tidak masalah” karena target jangka pendeknya adalah belajar. Sehingga dalam jangka waktu 5 tahun dia bisa menjadi seorang pemimpin. Setelah itu mau belajar lagi supaya mendapat S-2.
Melihat determinasi, tekadnya yang kuat dan sikapnya yang sungguh-sungguh saya berani bertaruh bahwa anak ini akan sukses pada bidang apapun. Dan dimanapun.
Jadi mas Bayu, Bali atau bukan Bali, Chinese atau bukan Chinese, Medan atau bukan Medan tidak ada hubungannya dengan sukses hidup kita. Sukses ditentukan dari perbuatan kita, sikap kita. Dan perbuatan kita sehari-hari ada kaitannya dengan prioritas hidup kita.
Tukang kebun saya tidak memprioritaskan profesinya. Tidak sukar menebak bahwa usahanya akan tersendat-sendat. Anak yang tadi pagi interview begitu fokus pada tujuannya. Punya prioritas yang jelas. Dan saya tidak ragu akan kesuksesannya di masa yang akan datang.
Prioritas hidup kita akan menentukan tindakan kita. Tindakan mempengaruhi hasil.
It’s all about priority!
Semoga bermanfaat.



