“Saving is a fondation of wealth creation”
Tanpa terasa, kolom Money&You yang saya tulis secara mingguan di harian Bali Post, sudah berjalan 4 tahun. Saya ingat edisi pertama dari tulisan saya adalah mengenai menabung. Supaya menarik, judulnya dibuat provokatif, “Semua orang bisa jadi Milyuner”. Terbit tanggal 18 April 2004.
Kolom ini bisa terselenggara berkat kerja sama dengan Bali Post. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih atas Bpk. Satria Narada dan jajarannya. Karena tanpa Bali Post, tidak mungkin ide-ide saya dapat disampaikan kepada masyarakat luas, di Bali khususnya.
Selain itu, Money&You juga pernah digelar dalam bentuk radio talkshow dan publik seminar.
Secara keseluruhan ide dasar dari Money&You adalah hendak menyebarluarkan ide, knowledge dan best practices sehubungan finance management, bisnis dan entrepreneurial.
Dan dari keseluruhan idea yang ‘dijual’ kepada masyarakat Bali, ada isu yang terus menerus saya ulang. Yaitu kebiasaan untuk menabung (saving).
I believe, saving is a fondation to our wealth creations.
Saya percaya, bahwa menabung merupakan dasar dari penciptaan kekayaan. Keluarga yang membiasakan menabung, terlepas dari berapapun tingkat pendapatannya niscaya mempunyai harapan untuk bisa hidup sejahtera. Kumpulan keluarga yang gemar menabung akan membentuk masyarakat yang tidak konsumtif dan produktif. Pada gilirannya menjadikan masyakakat yang sejahtera. Masyarakat yang sejahtera akan punya waktu untuk mengembangkan budayanya. Khusus untuk Bali, pulau yang saya cintai ini, pulau yang mempunyai taksu atas budayanya, isu melestarikan dan mengembangkan budayanya yang luhur semakin significant.
Sebaliknya keluarga yang tidak membiasakan menabung, cenderung boros dan konsumtif. Ini adalah cikal bakal keluarga yang melarat dan sengsara. Jika sebagian besar keluarga-keluarga ini melarat, akan terbentuklah masyarakat yang miskin. Masyarakat yang miskin tidak mempunyai kekuatan mengembangkan budayanya. Kebudayaan Bali yang luhur terancam.
Jadi, seharusnya dalam ajeg Bali, tidaklah boleh terlepas dari isu untuk mensejahterakan masyarakat di Bali. Dan jika kita ingin mensejahterakan masyarakat Bali, let’s back to basic.
Mari budayakan menabung.
Menabung itu gampang. Saving is easy. Tinggal pergi ke bank, buka rekening dan mulailah menabung. Saking gampangnya, Robert Kiyosaki mengatakan ‘I can train the monkey to save’.
Tidak dibutuhkan ketrampilan apapun untuk bisa menabung.
Orang bilang bahwa jika menabung kita rugi karena bunganya rendah dan inflasinya tinggi. Saya mengatakan bahwa menabung merupakan pondasi awal, a start up. Dari tabungan yang kecil lama-lama akan membentuk dana yang bisa di-investasikan. Investasi-lah yang akan memberikan return yang lebih besar.
Namun tanpa saving tidak akan ada investasi. Apanya yang mau diinvestasikan. Mau berinvestasi di real estate misalnya, minimal membutuhkan uang muka.
Orang bilang, ‘saya orang bodohlah yang menabung. Kalau mau kaya harus berbisnis’. Saya mengatakan, ‘benar bisnis memberikan return yang tinggi, namun certain skills required. Ada ketrampilan khusus yang perlu dimiliki dan dikuasai oleh setiap orang yang ingin berbisnis. Dan tidak semua orang bisa menjadi pebisnis yang baik.
Masyarakat yang menabung mampu berinvestasi. Investasi menghasilkan produktivitas.Masyarakat yang menabung akan lebih berani berwirausaha, karena ada penyangga-nya (cushion) kalau-kalau usaha dan investasinya itu gagal atau meleset perhitungannya. Produktivitas seperti inilah yang menghasilkan kesejahteraan.
Oleh karena itu, di ulang tahun BPR Lestari yang ke-10 tahun ini, saya mengajak Bali untuk menabung.
Semoga bermanfaat. Salam.



