“98% konsumen Indonesia berprilaku jangka pendek”
Handi Irawan
Bapak/Ibu yang saya hormati, baru-baru ini saya membaca sebuah survey yang dilakukan oleh konsultan Marketingya pak Handi Irawan Frontier. Hasilnya mengejutkan. Katanya “98% konsumen di Indonesia berprilaku jangka pendek”.
Kalau konsumen di Indonesia itu bisa kita artikan ‘sebagian terbesar masyarakat di Indonesia’, dengan kata lain bisa saya terjemahkan hasil temuan pak Handi Irawan tadi sebagai ‘98% masyarakat Indonesia berprilaku jangka pendek’.
Sementara itu Bapak/Ibu sekalian, T Harv Ekker dalam bukunya “ Millionare Mindset” mengatakan bahwa salah satu syarat orang bisa menjadi kaya adalah mempunyai horizon jangka panjang.
Nah kalau kita gabungkan dua kenyataan bahwa 98% masyarakat Indonesia berprilaku jangka pendek dan hasil penelitian Jack Canfield bahwa kalau seseorang mau kaya sejahtera harus berprilaku jangka panjang, maka hal ini ternyata relevan dengan kenyataan bahwa hanya 1% dari seluruh populasi yang akhirnya bisa menjadi kaya.
Ini juga relevan dengan kenyataan bahwa ajakan menabung jangka panjang kurang disambut dengan antusias. Ini juga relevan dengan kenyataan bahwa instalment saving yang berbunga tinggi namun hasilnya baru bisa dinikmati setelah sekian tahun menabung, kalah pamor dibandingkan dengan jenis tabungan yang memberikan hadiah (walaupun bunganya rendah).
Bapak/Ibu sekalian, tahukah kita bahwa sebagian besar masyarakat kita ternyata mengganti handphone setiap 6 bulan sekali dan mengganti sepeda motor 4 tahun sekali.
Tahukah Bapak/Ibu sekalian, bahwa omzet penyediaan ring back tone sudah mencapai triliuan rupiah. Bahkan satu grup band The Masiv mendapatkan pendapatan hampir 4 Milyar akibat lagu-lagunya yang diunduh oleh para pengguna ring back tone.
Jadi kalau dibidang bahwa masyarakat kita tidak mempunyai uang (purchasing power), data diatas bisa membuktikan bahwa keyakinan tersebut adalah salah besar.
Bohong kalau kita mengatakan kita tidak punya uang. Buktinya bisa mengganti handphone. Buktinya bisa mengganti motor. Buktinya bisa membeli ring back tone (aneh kan membeli sesuatu untuk didengarkan orang lain..).
Bapak/Ibu sekalian, menindaklanjuti data dan kenyataan diatas, jika kita ingin bergabung dengan kelompok elit yang 1%, maka yang perlu kita lakukan tentunya yang sebaliknya (yang bukan kelakuan 98% masyarakat kebanyakan) .
Siapkan horizon perencanaan yang lebih jangka panjang. Mulailah membuka tabungan mencicil (instalment saving) yang bunganya lebih tinggi (jika ingin tahu personal banker officer kita di BPRLestari akan memberitahukan caranya).
Mulailah secara bijaksana mengalihkan purchasing power yang kita miliki sedikit demi sedikit kepada sesuatu yang menghasilkan (asset). Jika tidak atau belum tahu harus mulai dari mana, mulailah mencicil tabungan.
Bapak/Ibu sekalian saya sudah seperti kaset yang rusak bicara masalah ini berulang-ulang. Saya hanya mencoba mengedukasi, memberikan motivasi dan bahkan menyediakan tools-nya. But…bapak/ibu sekalian, by the end of the day, kita sendirilah yang menentukan nasib kita.
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat.




By surya antix on Aug 6, 2009
Saya juga heran dengan RBT, berlangganan bukan untuk dinikmati (didengar) oleh diri sendiri. Antix kan? Bahkan banyak juga kawan yang “pulsanya sekarat” tapi RBT-nya bisa berganti-ganti. Memang terlihat bohong kalo Indonesia dalam kondisi kritis. Oleh karena itu saya pikir tidak heran para Pengusaha mengatakan Indonesia merupakan pangsa pasar yang potensial? Membanggakan..relatif dech
wahahaha