Hutang (part 2)!
Bapak/Ibu sekalian, minggu lalu saya bicara mengenai hutang luar negeri kita. Bahwa sama seperti rumah tangga dan perusahaan, negarapun berhutang untuk membiayai ‘belanja’-nya.
Bahwa pengertian hutang tidak serta merta harus dianggap jelek secara absolut. Hutang akan memberikan manfaat jika digunakan dengan bijaksana. Hutang akan memberikan akselerasi pembangunan yang pada ujungnya adalah kesejahteraan rakyatnya jika dan hanya jika pemanfaatan hutangnya benar. Dan sebaliknya akan berlaku. Jika hutang digunakan tidak tepat guna, maka bukan kesejahteraan yang terjadi melainkan kemelaratan.
Basic pemikiran tulisan saya tempo hari adalah “klaim hutang” itu jahat secara absolut itu tidaklah benar. Bahwa kampanye mengenai hutang luar negeri yang jahat itu tidaklah tell the whole truth.
Tapi ada benarnya kita menyoroti masalah hutang negara ini. Karena ada kecenderungan para politisi untuk menggunakan hutang untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya populis. Tanpa memikirkan efek jangka panjang hutang itu.
Bayangkan jika seseorang terpilih sebagai seorang presiden dengan masa jabatan 5 tahun. Tentunya ia ingin menyenangkan rakyatnya supaya terpilih kembali untuk masa 5 tahun kedepan. Akan ada dorongan yang sangat besar untuk membuat program-program yang ‘pro-rakyat’. Saya menulis ‘pro-rakyat’ dalam tanda kutip karena yang pro-rakyat jangka pendek belum tentu baik buat rakyat keseluruhan jangka panjang.
Akan ada dorongan insentif yang sangat besar buat pemerintah untuk membuat program-program populis agar rakyatnya senang. Misalnya mensubsidi BBM gila-gilaan, mensubsidi pupuk agar murah, mensubsidi pangan agar sembako murah, memberikan subsidi bunga agar para petani dan nelayan mendapatkan kredit murah, menjalankan program kredit tanpa agunan yang kemudian resikonya ditanggung oleh negara dan program-program sejenisnya.
Ingat tulisan saya dulu bahwa dalam dunia ekonomi dikenal istilah tidak ada makan siang yang gratis. There is no such a thing like a free lunch. Semua ada biayanya. Kita sebagai rakyat harusnya kritis untuk bertanya, siapa yang membayari semua program-program populis yang ‘pro-rakyat’ tadi.
Pendapatan pemerintah adalah dari pajak. Dan menaikkan pajak tidak membuatnya populer (juga tidak baik bagi perekonomian, nanti kita akan bahas mengapa pajak yang rendah akan meningkatkan kesejahteraan suatu negara). Jika penerimaan pajak tidak cukup untuk ‘belanja’ negara maka negara akan berhutang. Istilah ekonominya adalah deficit budget.
Bapak/Ibu sekalian, akan ada insentif yang sangat besar bagi para politisi untuk run deficit demi program-program populis pro-rakyat yang jangka pendek. Insentifnya adalah rakyatnya senang dan ia akan dipilih kembali pada pemilu berikutnya. Padahal senang-senangnya itu atas ongkos yang harus dibayar oleh anak cucu kita.
Problem yang muncul tidak akan terasa dimasyarakat karena dampaknya jangka panjang padahal efek senangnya segara terasa.
Dengan demikian Bapak/Ibu sekalian, hutang pemerintah (baik luar negeri maupun dalam negeri) haruslah diatur. Jika perlu ada undang-undang yang membatasi hutang. Bahwa hutang hanya dibolehkan untuk program-program investasi yang memberikan competitive advantage negara di masa yang akan datang. Misalnya hutang hanya dibolehkan untuk proyek infrastruktur, pengadaan jalan dan jembatan, menyediakan pendidikan dan yang sejenisnya. Sema seperti di rumah tangga, tidak boleh hutang digunakan untuk membiayai pesta kawin atau untuk jalan-jalan misalnya. Tapi hutang untuk membiayai si anak sekolah tentunya justify.
Kita harus melarang pemerintah berhutang jika untuk kepentingan senang-senang sesaat dengan mengorbankan masa depan, sama seperti kita harus menahan diri tidak berhutang dengan menggunakan credit card untuk membeli handphone baru.
Dan mengingat adanya insentif yang cukup besar untuk ‘menyalahgunakan’ hutan, kita harus berhati-hati jangan memilih orang yang salah. Hutang is like a loaded gun. Di tangan pemburu yang handal, ia menjadi alat untuk berburu, membawa makanan untuk keluarganya. Di tangan seorang pemabuk, pistol itu akan membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat.



