Bapak/Ibu sekalian, belum lama ini, saya dan tim saya di BPR Lestari berfikir untuk memasuki segmen pembiayaan sepeda motor. Dasar pemikiran saya adalah bahwa segmen ini mempunyai populasi yang cukup (ada pasarnya), permintaannya meningkat terus, dan BPR Lestari secara cost sanggup berkompetisi dengan perusahaan pembiayaan lainnya. Dengan adanya competitive strenght dari sisi cost ini tentunya akan memungkinkan saya mempunyai unit bisnis yang tumbuhnya konsisten.
Demikian pemikiran saya, sehingga kemudian saya menerjunkan tim untuk melakukan riset secara lebih mendalam.
Hasil studi kami ternyata memberikan gambaran yang lebih buram dibandingkan dengan perkiraan saya sebelumnya.
Biaya untuk mendapatkan satu nasabah (akuisisi cost) mahal. Resiko cukup besar. Sehingga untuk mengkompensasi resiko, bisnis modelnya membutuhkan omzet yang besar. Untuk mendapatkan omzet yang besar, diperlukan infrastruktur (tenaga kerja dsb) yang juga besar. Operation cost-nya mahal.
Untuk mendapatkan omzet yang besar, maka agresifitas perlu ditingkatkan. Apalagi jika harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan pembiayaan lainnya. Agresifitas yang berlebihan pada akhirnya meningkatkan resiko kredit.
Belum lagi dipikirkan berapa besar resource yang harus dikerahkan dan bagaimana kerepotannya mengelola ribuan account pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Pasti saja ada kendaraan jaminan yang hilang, ada saja yang digadaikan kepada pihak lain, ada saja yang dihilangkan dengan sengaja dan seterusnya.
Semua kerepotan itu ternyata tidak dibayar dengan margin profit yang memadai. Sebagai informasi buat bapak/ibu sekalian, saking ganasnya persaingan di segmen ini, suku bunga kredit sepeda motor di Bali adalah yang paling rendah di Indonesia.
Oleh karenanya dengan kesadaran dan disengaja (purposeful), proyek pembiayaan kredit sepeda motor terpaksa kami tinggalkan (abandonment).
Purposeful Abandonment (penelantaran yang disengaja – mohon maaf sulit sekali mencari terjemahannya) adalah salah satu ajaran dari Peter Drucker, bapak manajemen modern.
Katanya, bisnis selalu memiliki sumber daya (resource) yang terbatas (limited). Nah sumber daya yang terbatas ini membuat kita harus membuat pilihan-pilihan. Pilihan bukan hanya kepada apa yang harus dikerjakan melainkan juga pilihan terhadap apa-apa saja yang seharusnya tidak kita kerjakan.
Sebagai pemimpin sebuah bisnis, tugas kita bukan hanya menentukan apa-apa saja yang harus kita kerjakan. Melainkan tidak kalah pentingnya, adalah menentukan apa-apa saja yang tidak perlu kita kerjakan.
Proyek pembiayaan sepeda motor kami tinggalkan untuk sementara karena kami tidak ingin resource kami tersedot sedemikian banyak untuk margin yang tipis. Sehinga dengan demikian saya bisa mengalihkan resource yang ada ke proyek-proyek lain yang lebih justify.
Yang saya maksudkan resource atau sumber daya bukan hanya modal, namun juga tenaga kerja, waktu, konsentrasi, kepusingan dan lain sebagainya.
Itulah yang membuat saya mengkerenyitkan dahi ketika ada seseorang yang bisnisnya rumah makan kemudian membuka toko handphone dan spa. “How much resources do you have?,” demikian tanya saya dalam hati.
Tidak semua opportunity harus diambil. “If what looks like an opportunity does not advance the strategic goal of the institution, it is not an opportunity. It is a distraction,” demikian kata Drucker.
Sebagai pemimpin sebuah bisnis, tugas kita adalah menentukan pilihan-pilihan. Dan seringkali konsekuensi dari pilihan-pilihan itu tidak terlalu jelas.
Apakah pilihan kami untuk tidak masuk ke segmen pembiayaan sepeda motor benar? Apakah pilihan kami untuk tidak masuk ke segmen transaksional banking juga benar? Tidak ada yang bisa menjawabnya sekarang. Only time will tell..! And that what makes business interesting.
Semoga bermanfaat. Salam.



