“Leadership bukanlah bermusyawarah untuk bermufakat” (Alex P Chandra)
Bapak/Ibu sekalian, 10 tahunan yang lalu, BPR Lestari masih menggunakan sistem kolektor. Kadang kala, setoran 1,000-an rupiah pun kita layani.
Setelah berjalan beberapa lama, saya kemudian memutuskan bahwa setoran yang dijemput harus minimal 5,000. Atas keputusan itu, saya diprotes keras oleh para karyawan. “wah pak, bank lainpun masih melayani setoran dibawah 5 ribu”, demikian kata mereka.
Perkembangan selanjutnya, jumlah setoran minimal saya naikkan lagi menjadi 50,000 rupiah. Kembali mereka memprotesnya. Sampai akhirnya beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk tidak menggunakan sistem kolektor. Saya diprotes kiri dan kanan.
Bapak/Ibu sekalian, saya menganggap kepemimpinan bukanlah sesuatu yang demokratis. Leadership tidak mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufakat. Leadership tidak mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak. Leadership mengambil keputusan apa yang terbaik buat organisasinya.
“Leadership is do the right thing”, demikian kata Drucker yang saya baca.
Bapak/Ibu sekalian, saya berkesimpulan bahwa sistem kolektor itu mahal dan tidak efesien. Melanjutkan sistem yang mahal dan tidak efisien itu sudah pasti salahnya. Menghentikan sistem kolektor, saya pikir ini adalah yang terbaik buat organisasi yang saya pimpin.
Keputusan ini kemudian berakibat fatal karena kemudian nasabah-nasabah penabung yang biasa dijemputin menjadi tidak aktif lagi. Sebagian terbesar menutup rekeningnya.
Ketika itu terjadi, banyak karyawan yang menyalahkan keputusan saya itu.. Walaupun saya sempat goyah, namun kemudian saya bertahan terhadap keputusan itu. “I do the right thing”, demikian pikir saya. Berapa besar armada kolektor yang harus saya siapkan jika saya menginginkan jumlah penabung yang besar. Semakin besar jumlah account saya, semakin besar armada yang saya harus persiapkan.
“Tidak sesuai dengan bisnis model yang saya cita-citakan”, saya berpikir demikian.
Leadership bukanlah popularity contest. Kadang kala kita harus membuat keputusan yang berat dan tidak disenangi oleh banyak pihak.
Bapak/Ibu sekalian, kepemimpinan sangat penting, baik di institusi bisnis, maupun dalam penyelenggarakan negara.
Pemimpin itu harus memberikan arahan (direction) ke arah mana para pengikutnya akan dibawa bukan sebaliknya bertanya dulu dan kemudian mengikuti suara terbanyak.
Ketika bali dilanda wabah rabies seperti sekarang ini, sudah jelas ini critical bagi Bali . Bukan hanya karena adanya korban jiwa, namun sebagai touris destinations kalau tidak segera ditanggulangi, multiplier efeknya akan sangat besar. Banyak nyawa menjadi taruhannya. Buat saya ini sudah lebih dari krisis.
Ketika Bali shortage listrik, ini juga krisis.
Ketika krisis, seorang pemimpin harus mengambil decisive action. Tindakan yang massif walaupun tidak populer. Tidak perlu mencari konsensus. Leadership bukanlah bermusyawarah untuk bermufakat. Leadership adalah melakukan hal yang benar.
Memang langkah selanjutnya, seorang pemimpin kemudian haruslah menjelaskan keputusannya supaya semua orang mengerti dan mendukung. Untuk itu diperlukan komunikasi dan sosialisasi yang intens.
Namun dalam situasi krisis, harus bertindak dulu, baru sosialisasi. Bukan sosialisasi dan bermusyawarah untuk bermufakat, kemudian bertindak. Nanti terlambat…!
Semoga bermanfaat. Salam.



