“Batasan dari marketing adalah kreativitas kita” (Alex P Chandra)
Bapak/Ibu sekalian, belum lama ini saya membuat iklan 30 detik buat salah satu program BPR Lestari (nanti Cedil yang jadi bintang iklannya). Ketika syuting iklan, saya menyempatkan diri untuk “menonton”-nya. Ketika sedang ‘menonton’ syuting itu teman saya dari Jakarta, sms menanyakan saya sedang berada dimana. Saya jawab,” sedang di tempat syuting”.
Kawan saya langsung menelpon, katanya, ”sama julia roberts yah… wow keren..”. “Bukan,” kata saya. “Tapi sama Cedil…”
Bapak/Ibu sekalian, Julia Roberts datang ke Bali, teman-teman saya di Jakarta tahu, se-Indonesia tahu, se-dunia tahu.
Ketika filmnya nanti tayang, seluruh dunia akan melihat Bali.
Berapa biaya yang dikeluarkan oleh Bali untuk promosi sedahsyat itu ? Zero… (bahkan saya mendengar keluhan pak Mangku Pastika, bahwa ada fee tertentu yang harus dibayar untuk lokasi syuting ….very sad…!)
Pak Jero Wacik, Menbudpar yang baru terpilih lagi di kabinet yang baru ini, dalam salah satu program talk show mengeluhkan bahwa aktivitas promosi pariwisata Indonesia ‘is not comparable’ dengan campaign Malaysia “truly Asia”. Sepanjang talkshow, tak henti-hentinya Pak Jero Wacik mengungkapkan betapa budget promosi kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Malaysia yang 20 juta Dollar. Jadi wajar kalau kita kalah dengan Malaysia, begitu kira-kira rasionalitasnya.
“Don’t fight the fight you can not win”, begitu salah satu ajaran strategis di dunia bisnis.
Kalau budget kita 2 juta dollar terus di-head on dengan campaign yang 20 juta dollar. Maka sudah jelas kalahnya. Kalau dilakukan dengan cara yang sama, maka kita akan membuat iklan dengan budget yang lebih rendah (baca: kualitas yang lebih rendah), dan spot tayang yang sepersepuluhnya. Bayangkan, kualitasnya lebih jelek, spot tayangnya sepersepuluhnya. Menurut saya itu sama saja dengan tidak beriklan.
Bapak/Ibu sekalian, yang besar belum tentu tidak terkalahkan. David bisa mengalahkan Goliath. Tapi yang kecil harus cerdik dan banyak akalnya.
Industri BPR yang diserang habis-habisan oleh bank-bank besar, bahkan oleh bank-bank asing-pun, jangan mau menyerah. Tapi jangan ikut-ikutan cara mereka. Kalau mengikuti mereka sudah jelas kalahnya. Misalnya ikut-ikutan buka ATM dimana-mana. Kita mana sanggup. Kalau dipaksakan bisa mati kita. Bikinpun nantinya akan ecek-ecek. Lebih baik enggak usah.
Namun ada kelemahan-kelemahan yang bisa kita eksploitasi, diantaranya: produk-produk mereka cenderung standar dan birokrasi yang keterlaluan rumitnya. Belum lagi overhead cost mereka yang relatif lebih tinggi dibandingkan kita di industri BPR yang gaji direkturnya tidak ada apa-apanya dengan direksi di bank umum.
“Mereka gajah kita monyet”, demikian kata saya di hadapan para karyawan BPR Lestari. “Elephant can not dance, monkey can”. Gajah tidak dapat menari, monyet bisa. Gajah kuat tapi monyet cepat. Jadi monyet tidak boleh adu otot, bisa mati, tapi mungkin akan menang kalau adu cepat.
Artinya selalu ada peluang, selalu ada cara, kreativitas kitalah batasannya.
Kembali ke masalah tourism campaign, bagaimana jika pak Menteri, mendorong para pelaku industri perfilman membuat film dengan latar belakang Bali yang lebih kental. Tapi bikinnya jangan tanggung-tanggung. Bikin Nicole Kidman atau Jessica Alba yang main. Angelina Jolie juga boleh. Misalnya judulnya “Tomb Raiders – The Paradise Lost”. Nanti premiere dan promonya dimulai dari Bali. Pak Menteri tinggal memfasilitasi acaranya, jangan dipajekin lagi.
“The Beach”-nya Leonardo di Caprio sukses mempromosikan pulau-pulau di Thailand.
Bagaimana kalau melalui musik. Secara sengaja minta Anggun untuk menyanyikan “Welcome to Paradise”dengan latar belakang Bali. Dan di-release di market international. Atau minta West Life menyanyikan another version dari “Paradise City”-nya Gun’s n Roses. Klipnya dibikin di Bali. Konser promonya di GWK.
“Welcome to my paradise, where the sun so bright and the party never ending..”
Dan seterusnya.
Jadi pak Jero Wacik, marketing tidak identik dengan iklan TV. Kreativitas adalah batasnya. “ And don’t fight the fight you can not win…”
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat.




By Surya Bagus on Nov 8, 2009
Kepentingan jangka pendek selalu menggoda untuk mengabaikan kepentingan jangka panjang. Tapi bisa jadi yg memiliki kepentingan tidak melihat benefit yg luar biasa besarnya bagi Indonesia pada masa yg akan datang.
Saya mendengar berita tentang syuting ini kira” 4 bulan sebelum syuting ini benar” terlaksana. Seharusnya pemerintah cukup punya waktu untuk bertindak gesit dalam memikirkan berbagai hal yg berkaitan dengan syuting ini sehingga tidak sampai ada masyarakat yg komplain karena pendapatannya terganggu, dsb. Memang cinta tanah air itu perlu pengorbanan namun asap dapur perlu diperhatikan juga. Sebaiknya pemerintah yg memberikan kompensasi kepada masyarakat, bukan dari pihak hollywoodnya. Sebab, dihitung dari sudut manapun, sudah kelihatan benefit yg luar biasa besarnya, berkali-kali lipat manfaatnya dibanding apa yg pemerintah keluarkan untuk biaya kompensasi. Namun, tampaknya monyet yg gesit sedang sakit, sehingga gajah tetangga tetap memenangkan kompetisi pariwisata. Beruntungnya, kali ini gajah hollywood yg menjadi pahlawan bagi Indonesia.. Ya, kita masih beruntung