Integrity first, competence next. When integrity and competence meet, success is not far away.
Suatu hari saya menemani Pak Hermawan Kartajaya makan malam di warung Made Seminyak.
Karena kebetulan punya kesempatan ngobrol sama sang ‘master’, sayapun bertanya-tanya. Pertanyaan yang paling banyak saya ajukan justru bukan mengenai ‘marketing’ melainkan bagaimana beliau membangun timnya.
Bagaimana caranya beliau memilih tim intinya. Tim yang menjadi tulang punggung perusahaannya.
Jawabnya ketika itu adalah, “buat saya, bisa dipercaya dahulu, baru kompetensi’.
Menarik Bapak/Ibu! Urutannya adalah bisa dipercaya dahulu baru kemudian kompetensi.
Setelah orang-orang yang ‘bisa dipercaya’-nya dipilih, barulah kemudian beliau mengembangkan kompetensinya. Dilatih, diberikan kesempatan untuk tanggung jawab yang lebih besar, di-coach. Bahkan ada yang dibiayai untuk disekolahkan S-2 bahkan S-3. Ada yang dikirim dan diberikan beasiswa sekolah lagi di luar negeri. Dan sebagainya.
Jadi kalau kita mengacu kepada cara berpikir seperti tadi, jika kita ingin menjadi star employee, maka haruslah kita bisa dipercaya.
Saya mempunyai seorang karyawan yang sangat berprestasi. Targetnya tercapai terus. Bahkan seorang yang membantu saya merintis salah satu unit bisnis di BPRLestari.
Tapi belakangan ketahuan bahwa karyawan ini sedikit main mata dengan pihak-pihak lain untuk mendapatkan sedikit keuntungan lebih.
Buat saya ini pelanggaran integritas. Tanpa ragu saya memecatnya. Saya tidak bisa bekerja kepada orang yang tidak saya percaya. Titik.
Seketika nasibnya berubah bumi dan langit. Jika tadinya adalah calon pemimpin yang diandalkan, tiba-tiba sekarang berada di jalanan mencari pekerjaan, yang setiap orang mau memperkejakannya akan bertanya mengenai past performance-nya.
Kecuali ia mau memulai dari awal lagi sulit baginya mendapatkan pekerjaan dengan posisi dan tanggung jawab sebagaimana yang dahulu.
Ia kehilangan banyak waktu karena mencari keuntungan sesaat yang bukan haknya.
Bisa dipercaya atau istilah saya mempunyai integritas tidak bisa diperoleh dalam waktu sebentar. Memerlukan waktu dan pembuktian. Sangat sulit untuk mendapatkan kredibilitas dalam jangka waktu kerja yang pendek. Oleh karena itu perhitungkan masa bekerja kita. Jangan terlalu sering berpindah pekerjaan. Apalagi hanya karena iming-iming kelebihan gaji sejuta dua juta.
Ingatlah, target kita selalu jangka panjang.
Carilah perusahaan yang baik dan berkembang. Pilih yang concern dengan pengembangan karyawannya. Pilih yang memungkinkan pengembangan karir di masa yang akan datang. Lihat karakter para pemimpinnya. Jika semua sudah oke, bertahanlah dalam jangka waktu tertentu.
Jika kita memilih sudah memilih perusahaannya dengan benar. Saya menyarankan waktu 5 tahunan untuk mereview kembali apakah tetap bertahan di perusahaan itu atau mulai pikir-pikir untuk mencari karir di tempat lain. Atau paling sebentar 3 tahun.
Jangka waktu yang 5 tahun tadi cukup untuk membuktikan apakah kita karyawan yang bisa dipercaya atau tidak. Seharusnya dalam waktu 5 tahun, karir kita akan mulai bersinar (jika perusahaannya berkembang dan pemimpinnya mempunyai visi dan concern terhadap pengembangan pada karyawannya).
Kembali kepada obrolan saya dengan Pak Hermawan, dia mengatakan, “ kawan-kawan yang sekarang in charge di MarkPlus sudah bersama saya minimal 15 tahun. Saya tidak ragu menyerahkan kepemimpinan MarkPlus kepada mereka”
Buat saya, sebagai pengusaha, mendapatkan karyawan yang bisa dipercaya lebih berharga daripada mendapatkan berlian dan permata.
Pemikiran saya terhadap anggota tim di BPRLestari yang terbukti bisa dipercaya dan kemudian kompetensinya sudah berkembang, adalah saya suatu hari akan menyerahkan kepemimpinan di perusahaan ini kepada mereka, atau menjadikan mereka sebagai partner bisnis saya di kemudian hari. Mudah-mudahan mereka bersedia.
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat.
By sagita on Jul 8, 2008
apa indikator paling ampuh untuk memonitor loyalty karyawan? karena semakin lama mereka akan semakin berkembang dalam improvisasi dan kamuflase di bidangnya..