Sebuah sms masuk ke ponsel saya. Isinya sbb: “saya membangun toko dengan utang, tiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dari sisanya setelah bayar utang. Saya bosan pak, hasilnya segitu saja. Apakah saya bisa diversifikasi usaha lain, sedangkan usaha yang satu masih ada utang-utang? Terus apa yang harus kita lakukan untuk penghasilan tambahan ?
08180544xxxx
Bapak/Ibu pembaca Money&You yang saya cintai, sangat mungkin apa yang disampaikan oleh peng-sms tadi juga merupakan concern bagi kita semua.
Keprihatinan dasarnya adalah ‘apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan penghasilan tambahan?’ Bukankah itu juga merupakan keprihatinan kita semua ?
Marilah kita lihat perspektifnya. Kasus bapak (atau ibu) di atas, adalah sebagian besar penghasilannya habis untuk membayar hutang atau bunganya. Sisanya tinggal sedikit, dan sang bapak sudah mulai tidak sabar.
Cara yang paling gampang dan resikonya paling kecil sebenarnya adalah mempercepat pembayaran hutangnya. Hal ini bisa dilakukan dengan apa yang saya sebut ‘menunda kesenangan’. Fokuskan seluruh sumber daya untuk mempercepat pelunasan hutang. Jangan beli handphone baru dulu, jangan ganti sepeda motor dulu. Tunda dulu kesenangannya. Bayar dan lunasi dulu hutangnya, sehingga nanti porsi penghasilan yang dapat dinikmati semakin membesar.
Cara kedua adalah jika bapak (atau ibu) sudah yakin dengan bisnis toko anda, adalah dengan memperluas skala usaha. Jadi tidak perlu mempercepat pembayaran hutang, namun sisa hasil dire-investasikan kembali ke bisnisnya. Logikanya jika modal yang di-investasikan membesar, hasilnya juga membesar.
Kedua cara di atas prinsipnya sama, yaitu ‘menunda kesenangan’.
Prinsip ‘menunda kesenganan’ itu kelihatannya sederhana. Tapi menurut saya sangatlah powerful.
Inilah prinsip dasar dari kapitalisasi. Inilah prinsip dasar dari financial planning. Ini kebalikan dari prinsip konsumerisme yang melanda kita sekarang ini.
Dengan secara konsisten menunda kesenangan, maka akan ada sisa penghasilan yang digunakan untuk ber-investasi. Apakah berinvestasi di bisnis, mempercepat pembayaran hutang, atau berinvestasi di tabungan atau deposito.
Jika kita tidak mampu menunda kesenangan, maka kita hidup di atas kemampuan kita. Dan itu biasanya dibiayai oleh hutang. Hidup makin lama semakin sulit, karena sebagian terbesar dari penghasilan kita gunakan untuk mencicil dan membayar hutang. Hidup semakin sesak dan kita sampai tidak mampu bernapas.
Jika kita secara konsisten mampu menunda kesenangan, investasi kita yang tadinya cuma sedikit, lama lama membesar, menjadi bukit. Dan tiba-tiba hidup kita berubah.
Bapak dan Ibu, menunda kesenangan, jika dilakan dengan konsisten, akan mengubah hidup kita bagaikan bumi dan langit.
Mau tahu apakah kita termasuk orang yang bisa menunda kesenangan?
Cobalah periksa daftar pengeluaran kita setiap bulan. Berapa yang kita bayar untuk kartu kredit, berapa yang untuk bayar cicilan ini dan itu. Bandingkan dengan berapa yang mampu kita sisihkan untuk tabungan atau berinvestasi.
Untuk bapak (atau ibu) yang mengirimkan sms, jika belum cukup minggu depan saya akan bahas cara lain yang bisa digunakan untuk menambah penghasilan dengan cara yang relatif aman. Yaitu menciptakan Multiple Source of Income.
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat !



