Bapak Ibu pembaca Money&You yang saya cintai, sering kita mendengar sekarang ini, fundamental ekonomi Indonesia membaik. Indikasinya banyak, kurs rupiah menguat (sempat ke 8,700), indeks saham mencatat rekornya yang tertinggi (mencapai 1,500),inflasi rendah, dan cadangan devisa mencatat rekornya yang tertinggi sepanjang sejarah.
Jadi kalau kita liat indikator-indikator di atas, ekonomi seharusnya membaik. Hidup kita seharusnya ikut terangkat juga, semakin sejahtera. Tetapi yang kita rasakan, apakah demikian ?
Kalau indikator ekonomi membaik, kenapa hidup tambah sulit ? Kenapa bisnis tak juga membaik ?
Bapak/Ibu sekalian, marilah kita liat apa yang terjadi sebenarnya dari kacamata awam (bukan tinjauan akademis – red).
Rupiah menguat melawan USD karena permintaan rupiah banyak, artinya banyak pihak yang menjual USD-nya untuk dibelikan dollar.
Rupiahnya kemudian digunakan untuk apa ? Untuk membeli saham dan surat berharga, makanya indeks harga saham naik drastis.
Jadi masuk akal, karena banyak pihak menjual USD-nya, dan rupiahnya digunakan untuk membeli saham dan surat berharga maka akibatnya rupiah menguat, saham menguat.
Bagus kan ?
Nanti dulu.
Investasi yang masuk ke bursa saham, yang mendongkrak nilai rupiah dan saham, merupakan investasi portofolio. Investornya juga investor portofolio.
Investor portofolio adalah investor yang berinvestasi hanya pada surat berharga, saham dan valuta. Bukan investor beneran yang berinvestasi membangun pabrik, industri, jasa, hotel dan lain-lain.
Investor portofolio mempunyai sifat menarik keuntungan jangka pendek. Setelah keuntungan jangka pendek dirasakan tidak ada lagi, maka investor tadi ramai-ramai akan keluar lagi.
Ketika keluar, maka mereka akan menjual sahamnya dan kembali membeli dollar. Artinya saham akan terkoreksi turun dan rupiah akan melemah kembali. Cepat naiknya, lebih cepat lagi turunnya.
Cadangan devisa yang mencatat rekor bisa berarti performance negaranya sangat baik, bisa juga berarti lain.
Cadangan devisa adalah ekspor dikurangi impor. Jika kenaikan ekspor lebih besar dibandingkan kenaikan impor, maka cadangan devisanya naik. Ini artinya ekonomi kita berjalan dengan baik.
Namun bisa juga berarti bahwa impornya menurun drastis. Impor yang menurun drastis tidak berarti baik jika barang yang berkurang dimpor adalah bahan baku dan modal. Jika kasus ini yang terjadi, maka sebenarnya terjadi penurunan aktifitas produksi. Pabrik-pabrik mengurangi produksinya, bahkan tutup.
Inflasi yang rendah bisa terjadi karena produktifitas nasional yang baik atau juga karena rendahnya daya beli.
Untuk kasus kita, menurut Bapak/Ibu, yang mana yang terjadi ?
Saya melihat peningkatan drastis di transaksi saham, baik di bursa langsung maupun melalui reksadana saham.
Terserah untuk investor profesional. Saya concern dengan anda yang mengumpulkan uang sedikit-sedikit dan kemudian terlalu bersemangat berinvestasi karena pengaruh angka-angka diatas. Berhati-hatilah, statistik bisa berbohong !
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat !



