Beberapa hari yang lalu saya makan siang dengan seorang teman. After lunch, saya ajak dia berkeliling menunjukkan beberapa lokasi kantor yang akan menjadi kantor BPRLestari. Rencananya ada 3 kantor lagi yang akan kita buka di tahun 2008 ini.
Kawan saya itu, yang tahu sejarah karir saya, bertanya: “bagaimana kamu memulainya? Uangnya dari mana?
Bapak/Ibu sekalian, saya memulainya 9 tahun yang lalu dengan uang pinjaman dari orang tua saya. Waktu saya keluar dari tempat saya bekerja, saya meminjam uang dari orang tua saya 250 juta. Yang 100 juta saya gunakan sebagai patungan modal membuat perusahaan penukaran valuta asing (money changer), 75 juta saya belikan mobil untuk transportasi. Sisanya yang 75 juta digunakan sebagai stand by cash selama usaha patungan saya belum menghasilkan.
Karena ada keluarga yang harus saya cukupi, saya masih harus bekerja sebelum full time menjadi entrepreneur. Selama 8 bulan saya bekerja menjadi general manager sebuah perusahaan garmen lokal. Gajinya cukup besar sehingga kerja 8 bulan tadi cukup untuk biaya hidup 2 tahun. Kalau ngirit maka bisa bertahan sampai 3 tahun.
Jadi, pada masa awal di BPRLestari, saya mengambil gaji sedikit sekali. I work for almost free! Kehidupan saya sehari-hari ditopang oleh stand by cash hasil pinjaman dan tabungan hasil bekerja. Dan itu berlangsung selama 3 tahun. Setelah bisnisnya kuat, baru dibebani perlahan-lahan.
Usaha yang masih dalam tahap awal (start up) menurut saya tidak boleh dibebani cost yang terlalu besar. Nanti dia mati prematur. Seorang entrepreneur harus berani menurunkan life-stylenya sampai usahanya up and running. Diperlukan pengorbanan agar usahanya mampu survive, kemudian memupuk laba sedikit demi sedikit.
Kawan saya itu mengatakan bahwa usahanya tidak maju-maju karena biaya hidupnya tinggi. Hasil usahanya hanya mampu membayar kebutuhan hidupnya. Kalau demikian kata saya, maka selamanya akan begitu terus. Harus ada pengorbanan untuk menurunkan life-style, supaya punya kekuatan memupuk laba untuk membawa bisnisnya ke level yang lebih tinggi.
Ini yang dikatakan oleh Robert Kiyosaki, bahwa seorang entrepreneur harus mau work for free. Kalau belum apa-apa bisnisnya sudah dibebani biaya-biaya yang besar, tidak bisa take off nanti.
Saya pernah ditawari beberapa proyek kongsi, namun kongsi-an saya itu belum apa-apa mensyaratkan gaji dan insentif yang cukup besar. Bagaimana mungkin proyek yang belum tentu berhasil membayar gaji sebesar itu. Bagaimana cara berpikirnya saya tidak mengerti. Dari situ saya bisa menilai entrepreneurship level-nya.
Janganlah life style mendahului pendapatan. Pendapatan dulu baru life style. Kalau bisa hiduplah satu atau dua level dibawah kemampuan kita. Jadi kita mampu membentuk tabungan (saving). Saving ini yang membuat kita mampu berinvestasi.
Sedikit demi sedikit, lambat laun menjadi bukit.
Semoga bermanfaat.




By sagita on Jul 8, 2008
nice one to read..
karena saya sedang berada di fase ini sekarang, dan mungkin akan mengalami godaan “live style” yg sama.
tks 4 da article