“Apa yang kita miliki sekarang, tidak pernah merupakan motivasi yang kuat”
Kolom saya minggu lalu mengatakan bahwa hidup merupakan akumulasi perbuatan-perbuatan kecil. Yang jika saja perbuatan kecil tadi adalah sesuatu yang positif (empowering habit), maka dalam kurun waktu tertentu, hasilnya akan luar biasa. Jika teknik akumulasi ini diterapkan dalam karir seseorang, maka perbedaannya bisa bumi dan langit.
Pertanyaannnya adalah apa yang bisa membuat seseorang bangun lebih pagi, membaca lebih banyak buku, datang kerja lebih awal, pulang lebih lambat.
Apa yang bisa membuat seseorang selalu lebih bersemangat.
Bos saya senang dengan saya. Dia selalu meliat saya pulang belakangan. Perhatikan, dengan seketika saya menonjol ketika dibandingkan dengan ratusan karyawan lain yang pulang selalu tepat waktu.
Bos saya senang dengan saya, dan terus memberikan pekerjaan. Saya terus menerimanya, sampai kadang saya kebingungan sendiri.
Itu berlangsung terus tanpa saya sadari. Dan hasilnya cukup baik, saya menjadi ‘pejabat’ ketika usia karir saya baru 3 tahun. Menjadi ‘pemimpin’ di usia belum lagi 30. Not bad-lah !
Bapak/Ibu sekalian, saya dulu bekerja pada sebuah perusahaan raksasa. Pada tahun 1992 saja, karyawannya sudah 15,000-an. Saya memulai karir saya di head-office di Jalan Sudirman. Disana ada ribuan sarjana bekerja, bersaing. Bagaimana caranya bisa ‘keliatan’ ?
Secara tidak sadar strategi saya adalah ‘go extra mile’. Saya haus akan pekerjaan. Pikir saya, tidak apa pulang malam, toh lebih nyaman di kantor yang ber-ac dibandingkan dengan kamar kos saya. Jadi pulang saya sudah lelah sekali, langsung tidur. Toh lebih ngirit daripada keluyuran kesana kemari.
Sekian tahun berselang, saya merefleksikan diri. Dan bertanya apa yang membuat saya ‘get going’. Apakah gaji?
Bukan rahasia lagi, waktu itu di tempat saya bekerja, gaji relatif lebih rendah dibandingkan dengan tempat lain. Jadi pastinya yang memotivasi saya bukan itu.
Ternyata setelah saya renungkan, yang membuat saya terus bersemangat bekerja dalam tempo tinggi, going extra-mile, tidak korupsi sehingga bisa dipercaya dan lain-lain adalah keinginan saya menjadi Direktur.
Saya membayangkan diri saya menjadi seorang Direktur dengan mobilnya yang mentereng, kamar kerjanya yang megah, berbaju safari, dan kalau berjalan semua orang menghormatinya, kalau berbicara semua orang mendengarkan (istri saya bilang saya mengidap megalomania..red).
Saya membayangkan diri saya menjadi seorang Direktur yang rumahnya di Pondok Indah. Yang pikiran dan perkataannya bisa mempengaruhi orang banyak.
Ternyata itulah yang terus menerus memotivasi saya.
Bapak/Ibu, teman-teman sekalian, ternyata apapun yang kita raih saat ini bukanlah lagi merupakan motivasi yang kuat.
Ketika kita mendapat promosi dan kenaikan gaji, kita akan merasa senang. Namun kesenangan tadi tidak akan berlangsung lama. Paling lama 3 bulan setelah itu akan flat lagi.
Bagi saya, motivasi selalu datang jika kita membayangkan masa depan. Masa depan yang lebih menyenangkan, lebih sehat, lebih baik, lebih berkontribusi dan seterusnya. Membayangkan masa depan yang seperti ini seperti memberikan bensin kepada api supaya tidak padam-padam.
Bagaimana dengan anda?
Semoga bermanfaat. Salam.
Alex P Chandra
BPRLestari, CEO




By Eka Budiawan on Oct 8, 2008
ketika kita menghadapi situasi dimana harga saham turun dengan tajam, apa yg harus dilakukan oleh investor?