Bali adalah salah satu pulau terindah di dunia. No question!
Tetapi Bali juga menghadapi tantangan. Masih banyak penduduk Bali yang miskin (yang seharusnya tidak perlu jika tinggal di Pulau yang begitu indah). Dan ada kecenderungan pemiskinan akan berlanjut terus. Takutnya nanti sampai tingkatan yang ekstrim, dimana penduduk Bali tidak lagi menjadi tuan rumah di tanahnya. Dimana kemudian meningkatkan kebencian terhadap ‘pendatang’ yang lebih berhasil. Yang mana kemudian membuat sentimen kedaerahan menguat, anti investasi yang kontraproduktif.
Yang semuanya bersifat down spiral. Semakin memperburuk. Kemiskinan, keterpinggiran, sentimen kedaerahan, anti investasi dan seterusnya.
Masyarakat Bali sudah sangat ‘kental’ budaya. Sehingga tantangannya adalah bagaimana agar masyarakat Bali bukan hanya ‘kental’ budaya dan adat, melainkan kompetitif bersaing dengan masyarakat dunia, modern dan kosmopolitan.
Isu terpenting yang menurut saya perlu di-address adalah bagaimana menghentikan arus pemiskinan dan membalikkannya menjadi pen-sejahteraan.
Jika masyarakatnya sejahtera, toleransi mengemuka, budaya dan adat terpelihara dengan semestinya, kita berdiri sejajar dengan masyarakat dunia lainnya.
Pensejahteraan!
Beberapa hal yang saya usulkan untuk mensejahterakan masyarakat Bali adalah:
Satu, mendidik masyarakat untuk ‘mengelola’ uang. Manage the money! Tidak bisa kita melarang alih fungsi lahan, kalau hasil dari bertani dan bersawah tidak bisa mensejahterakan. Sementara di sisi lain ada tawaran dolar yang berkelebatan.
Isunya bukan jangan jual tanah. Melainkan apa yang harus kita lakukan dengan uang hasil penjualan tanah tadi.
Jika digunakan dengan bijaksana, maka bisa menciptakan kesejahteraan. Tanpa kesadaran ‘mengelola’ uang yang tinggi, tindakan menjual tanah tadi menciptakan kesengsaraan.
Tanah-tanah di Bali di pesisir Pantai, sangat potensial untuk investasi tourism. Biarkan berkembang di sana. Hasil dari pajaknya lebih besar dari output pertanian dan sawahnya.
Petani yang menjual sawah atau tanahnya di pesisir, bisa membeli tanah pertanian lain di bagian lain Bali dengan luas 10 bahkan 100 kali lebih besar.
Bayangkan petani yang hanya punya tanah 5000m2 di kawasan kerobokan, bisa mempunyai tanah sampai 10 hektar di daerah Singaraja. Masil ditambah dengan perlengkapan dan mampu membangun rumah yang layak ditambah sedikit investasi di deposito ataupun jenis investasi lainnya.
That’s what I call ‘kesejahteraan’.
Yang berbahaya adalah menjual tanah kemudian dibelikan barang-barang konsumtif yang sebenarnya tidak diperlukan. Mobil, motor, jam tangan mewah, LCD TV dan seterusnya. Tanah habis, uang habis, barang rusak. Hasil akhirnya pemiskinan dan kemarahan.
Mendidiknya perlu dilakukan secara simultan. Misalnya, kampanye “Jual Tanah, Beli Tanah”. Kalau perlu dipaksakan bahwa setiap yang menjual tanah di kawasan wisata, perlu dibuktikan membeli tanah yang 10 kali lebih besar di kawasan pertanian lain di Bali…..
Ataupun kampanye-kampanye yang lain, “Masyarakat Bali adalah Masyarakat yang Menabung” dan seterusnya.
Kemudian, ‘how to manage money’ ini diajarkan dalam kelas-kelas sekolah. Mulai SD, SMP, SMA dan sampai ke perguruan tinggi. Sampai ketrampilan financial menjadi DNA pada masyarakat. Mendarah daging.
Kedua, daripada ‘anti investasi’, ‘anti pengalihan lahan’, marilah membangun Bali secara lebih cerdas.
Daerah yang potensial dinkonversikan menjadi tourism destination adalah yang ada di pesisir pantai. Daerah pegunungan akan aman tak tersentuh. Tetapkan daerah-daerah yang akan dikembangkan menjadi daerah pertanian.
Hasil pajak dari resort-resort dan hotel dan restaurant digunakan untuk membangun infrastruktur perkebunan dan pertaniannya. Digunakan untuk membangun ‘pusat-pusat pelatihan’, ‘jalan’, ‘transportasi’ , ‘pengairan’ dan seterusnya.
Ketiga, memilih industri pertanian yang cocok.
Bali secara geografis dan demografis adalah pulau yang kecil. Lahannya terbatas. Tidak cocok untuk pertanian yang membutuhkan skala besar. Sulit mendapatka economic of scale-nya. Kalau pertanian tidak mendapatkan economic scale-nya, maka tidak bisa efesien, akibatnya tidak bisa mensejahterakan petaninya. (bukankah ini yang selama ini dialami?).
Alternatifnya, jika tidak bisa mendapatkan economic of scale, larinya adalah ke quality. High end product.
Jika tidak bisa mendapatkan produk yang massal, maka alternatifnya adalah produk yang berkualitas tinggi, yang harganya mahal.
Misalnya, perkebunan buah-buahan yang dijual ke hotel-hotel. Sayuran organik dan seterusnya.
Jadi, meningkatkan ketrampilan ‘managing money’, membangun infrastruktur pertanian dan perkebunan (ini tugas pemerintah) dan menetapkan industri pertanian dan perkebunan unggulan yang high end, membuat masyarakat kita bisa hidup lebih makmur, sejahtera, tourism semakin berkembang dan Bali semakin kuat taksu-nya (karena masyarakat yang sejahtera akan semakin berbudaya dan toleran). Semuanya saling menguatkan.
Semuanya membutuhkan kerja keras. Namun kata Sun Tzu, “a long journey is start with a small step”. Perjalanan panjang selalu dimulai dengan langkah kecil. Tulisan ini adalah langkah kecil.
Dan buat kita yang tinggal di Bali, masa depan Bali sangatlah cerah, we see a bright sunny light at the end of the tunnel.
Semoga!




By Forum Investor on Jul 2, 2008
Sayangnya di sekolah tidak diajarkan how to manage money.
By speqlen on Jul 5, 2008
Need to change the mental first, mental pengusaha bukan mental peminta – minta
Pengajaran juga harus diajarkan menjadi pengusaha bukan pencari kerja
Nice Article Though
By Ronggo on Jul 8, 2008
klo pikiran saya tentang bali adalah bali PILKADA
By sagita on Jul 8, 2008
ini kembali menyangkut soal budaya, dari ide sangat bagus tapi realisasi sekarang pergeseran budaya hampir terjadi di mana2..sosial kita terlalu tinggi sehingga dampak negatifnya yg dominan, benar sekali soal alih fungsi lahan ke layar lcd 17″ orang luar jual sate beli tanah di bali,kita…beli sate dari hasil jual tanah!! what a shame!!
gud article!!
Buat Mr. A ….nice blog’s design dude!!!
By Astinpro on Jul 10, 2008
semoga pemikiran anda di baca oleh para pemimpin di bali……