“Menjadi baru Mendapatkan”
Adik ipar saya baru lulus menjadi dokter. Sambil mengambil dinas wajib, dia membuka praktek umum. Pada awal-awal prakteknya dalam seminggu paling-paling menerima 10 pasien saja.
Bandingkan dengan Prof. Hendra, dokternya anak saya. Pagi-pagi saja antrean pasien sudah panjang. Belum ditambah praktek sorenya. Ditambah lagi dengan pasien-pasien di rumah sakit rujukannya.
Apa yang membedakannya? Padahal sama-sama dokter. Sakitnya yang diobati juga kebanyakan flu dan batuk. Obatnya juga mirip-mirip.
Saya menjadi pembicara minta professional fee 15 juta sekali tampil, tidak laku. Tung kawan saya, per 3 jam professional fee-nya 45 juta (sekarang tidak tahu, mungkin sudah naik lagi), orderannya sampai harus nolak-nolak.
Yang dibicarakan juga sama-sama saja. Orang saya satu guru satu ilmu. Mengapa bedanya bumi dan langit.
Bandingkan professional fee penyanyi lokal dengan Agnes Monica! Bambang Pamungkas dengan David Beckham.
Jawabannya saya dapatkan dari kawan saya itu. Tung mengatakan prosesnya adalah ‘menjadi baru mendapatkan’.
Jadi kita jadi dokter terkenal dulu, bagus profesionalitasnya, manjur baru dicari orang. Tung menjadi terkenal dan terbukti manfaatnya, baru bisa mengenakan charge yang mahal. Saya mengenakan charge yang mahal, siapa percaya, mana laku.
Agnes perform dengan bagus dan professional baru tarifnya naik. Dan seterusnya.
Menjadi baru mendapatkan. Bukan sebaliknya.
Banyak keluhan ketika kita bekerja. Seringkali kita dibebani pekerjaan yang banyak, dan semakin banyak, dan semakin banyak.
Keluhannya klasik, “little little to me salary no up up!”.
Sedikit-sedikit saya dikasih kerjaan, salary enggak naik-naik. Begitu kira-kira.
Bapak/Ibu, rekan sekalian, saya mengajak kita memandang bahwa dengan tambahan pekerjaan, berarti kita berkontribusi lebih banyak. Dengan tambahan pekerjaan sebenarnya boss semakin confidence dengan kita.
Jika kita berhasil membuktikan bahwa memang ‘ you are the man….”. Maka kita baru menjadi. Setelah menjadi baru kemudian mendapatkan.
Banyak yang berpikir sebaliknya, saya dibayar berapa baru mau mengerjakan apa. Mendapatkan dahulu baru mau menjadi. Kesannya memang lebih adil, but my friend, dunia tidak seperti itu.
Bayangkan, seorang pengusaha akan menanamkan modalnya dahulu, bekerja keras dahulu bertahun-tahun sebelum mendapatkan hasil (itupun kalau berhasil). Ada kemungkinan modalnya habis dan kerja kerasnya tidak menghasilkan apapun. Memang dibalik kerja keras dan resiko atas modalnya, ada kemungkinan mendapatkan hasil yang besar. Namun tidak ada yang menggaransinya. Sebaliknya banyak karyawan meminta kepastikan hasil dahulu sebelum melakukan kerja keras. Disuruh kerja dahulu, mengeluh “Little little to me salary no up up!”
Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik, maka kita harus menjadi yang lebih baik dahulu. Jika saya ingin mengejar fee-nya pak Tung, saya harus menjadi sebaik dia dahulu.
Menjadi baru menerima, bukan menerima baru menjadi!
Semoga bermanfaat!



