“The one who do not read is no better than the one who cannot read”
Bapak/Ibu sekalian, beberapa waktu yang lalu saya mendapat e-mail (oh ya, sekarang artikel Money&You bisa diakses melalui blog saya ………., anda bisa menaruh komentar, kita bisa ngobrol) dari kawan saya Bayu Susila yang sedang tugas belajar di Bangkok. Isinya meminta saya menulis artikel 3-4 halaman tentang ‘bagaimana meningkatkan competitiveness generasi Indonesia muda’.
Saya tidak terbiasa dengan pertanyaan yang dahsyat seperti itu. Biasanya domain saya kan persoalan bisnis, itupun yang kecil-kecil saja. Yang praktis, yang sehari-hari. Ini pertanyaannya ‘meningkatkan competitiveness generasi muda’. Wah berat ! Membutuhkan beberapa hari berkomtemplasi untuk merumuskan apa jawaban yang memadai untuk pertanyaan kawan saya yang pandai itu.
Bapak/Ibu sekalian, berdasarkan pengamatan saya problem terbesar di generasi saya (golongan 90-an, kalau mengacu tahun lulus kuliah), dan juga saya amati terjadi di generasi 2000-an, adalah kita kurang membaca.
Saya lulus kuliah (IP 3,00) cukup memuaskan dengan tidak membaca satupun text book. Saya hanya membaca diktat kuliah. Sarjana diktat ! Sebagian besar teman-teman saya juga begitu.
Mungkin ada satu dua yang membaca, tetapi bisa dikatakan sebagian terbesar mirip-mirip dengan saya.
Bayangkan, saya lulus sarjana, dari universitas terkemuka di Indonesia, tapi tidak pernah baca text book!
Kalau teman-teman saya datang ke Bali, saya selalu kewalahan mengantar kesana kemari. Teman-teman seangkatan saya itu tidak betah tinggal di hotel, walaupun hotelnya adalah salah satu resort terbaik di dunia. Jadi setelah check in, kemudian mengagumi hotelnya sebentar lalu bertanya, ‘terus kita kemana?”. Maunya jalan-jalan terus. Belanja!
Hal ini tidak terjadi dengan tamu-tamu asing. Mereka bisa berhari-hari tinggal di hotel, menikmati fasilitas hotel, berjemur, pijat dan sebagainya tanpa pergi kemana-mana.
Saya cukup bingung melihat fenomena ini, sampai saya kemudian menemukan perbedaannya.
Para turis asing itu rata-rata membawa buku dan membaca! Teman saya tidak bawa buku dan tidak membaca. Jadi kalau bengong terlalu lama di hotel menjadi bosan.
Bapak/Ibu sekalian, generasi saya tidak membaca!
Baru 5 tahun belakangan saya mulai membaca (sebelumnya sudah sering membeli buku tetapi tidak dibaca). Mula-mulanya terpaksa, karena bisnis tidak maju-maju, saya kemudian cari-cari inspirasi. Teman saya Tung Desem Waringin memberikan ‘kado’ sebuah buku judulnya “The Millionare Mindset” karangan Gerry Robert. Seorang teman saya lagi menyarankan buku Rich Dad Poor Dad-nya Kiyosaki.
Ternyata dengan 2 buku sederhana tadi, hidup saya berubah.
Selanjutnya saya menemukan keasikan dengan membaca. Dengan membaca kita bisa mengakses pemikir-pemikir terbaik di dunia. Bayangkan membaca sepak terjang Jack Welch, bos GE yang legendaris dalam bukunya Straight from the Gut”. Ketika membacanya saya berkhayal menjadi seorang Jack Welch, dan menemukan banyak sekali yang bisa saya contoh untuk saya aplikasikan di bisnis saya.
Bayangkan mendapatkan pemikiran dari peneliti terbaik Jim Collins dengan bukunya Build to Last dan Good to Great. Bagaimana membuat perusahaan yang bertahan selamanya. Dan faktor-faktor apa yang membuat sebuah perusahaan menjadi great!
Belum lagi buku motivasi klasik Think and Grow Rich dari Napoleon Hill. Guru managemen kelas dunia Noel Tichy bercerita mengenai kepemimpinan dalam The Judgement, Anthony Robbins yang legendaris bercerita bahwa semua orang mempunyai kekuatan yang tersembunyi dan bagaimana cara membangunkannya dalam bukunya Awaken the Giant Within.
Buku klasik Stephen Covey, 7 habit to be A highly Effective People sangat menginsirasikan, atau mengikuti pemikiran Tung dalam Financial Revolution dan Marketing Revolution.
Kalau kita mau berinvestasi di property, kita bisa meniru langkah-langkah Robert G Allen yang diceritakan dalam bukunya Nothing Down. Bagaimana caranya membeli properti tanpa uang muka. Atau menyimak nasihat-nasihat Dr. Dolf de Roos dalam Real Estate Riches.
Saya mendapat banyak kemajuan dalam berkomunikasi setelah membaca How to Win A Friend-nya Dale Carnagie.
Belum lagi ada buku lucu Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps dari Allan & Barbara Peace. Mereka bercerita bahwa pada dasarnya laki-laki dan wanita itu berbeda. Yang laki tidak mau mendengarkan dan yang wanita tidak bisa membaca map, demikian katanya. Dengan membaca buku Allan ini, efektivitas kita berkomunikasi meningkat drastis.
Saya memiliki perpustakaan kecil di rumah saya, dan saya menganggapnya sebagai harta karun. Ada ribuan ide yang tersimpan di dalamnya. Tinggal mengalinya kapan-kapan. Nilainya priceless.
Bapak/Ibu sekalian, jika anda setuju dengan saya, bahwa membaca membuka jendela dunia, membuat kita memiliki akses kepada pemikir-pemikir nomor wahid di dunia, mempelajari success story orang-orang besar, maka seharusnya kita mendidik anak-anak kita untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini.
Anak kita harus membaca!
Dan kalau sang anak melihat ayah ibunya membaca, ia akan ikut-ikutan membaca.
Saya memberikan ‘hari buku’, sekali dalam sebulan kepada anak-anak saya. Saya biasakan sejak dini sekali bahwa sekali dalam sebulan mereka saya ajak ke toko buku dan saya bebaskan membeli buku apa saja.
Setelah sekian tahun, sekarang menjadi kebiasaan, kalau saya lupa, anak-anak saya mulai menagih. “Yang bulan lalu belum lho pa, jadi bulan ini harus dua kali beli bukunya”. Jauh lebih bagus daripada minta ke Time Zone.
Mas Bayu, jadi langkah pertama untuk meningkatkan competitiveness generasi kita menurut saya adalah dengan membudayakan membaca.
The one who do not read, is no better than the one who can not read.
Siapa yang tidak membaca sebenarnya tidak lebih baik daripada yang buta huruf.
Dari mana kita mulai gerakan memasyarakatkan membaca ini?
Seperti kata AA Gym, mulailah dari diri kita sendiri, rumah tangga kita sendiri. Dan mulailah sekarang.



