Belajar dari Primus.
There is No Short Cut !
Beberapa hari yang lalu saya membaca koran yang salah satu beritanya adalah bahwa Primus, selebriti yang menikah dengan artis Jihan Fahira itu mencalonkan diri menjadi bupati. Bupati daerah mana saya sudah lupa.
Bapak/Ibu sekalian, Primus menjadi bupati adalah contoh yang bagus.
Mengapa demikian?
Primus yang pernah saya lihat fotonya, memiliki tubuh yang bagus. Perut yang six pack.
Tahukah Bapak/ibu sekalian, bahwa untuk membentuk tubuh sebagus itu dan perut serata itu, dibutuhkan tekad, disiplin, kerja keras, diet yang ketat, keringat dan air mata.
Saya sudah belasan tahun mencobanya tidak berhasil-berhasil. Istri saya bilang bukan six pack melainkan five pack, karena walaupun perut bagian atas sudah lumayan, bagian perut bawahnya masih buncit.
Sungguh, bukan sesuatu yang gampang. Membutuhkan kerja keras, membutuhkan dedikasi, membutuhkan proses. Dan tidak ada jalan pintas. Saya ulangi tidak ada jalan pintas.
There is no short cut!
Primus sudah membuktikan dirinya, sebagai pribadi yang mempunyai tekad yang kuat dan bersedia berproses dengan keringat dan air matanya. Seharusnya ketika ia memimpin, ia akan memimpin dengan cara yang sama.
Bapak/Ibu sekalian, kita mempunyai kelemahan mencolok, bahwa kita tidak senang dengan proses. Kita menyukai yang instant. Kita senang mencari-cari jalan pintas.
Mau kaya, korupsi.
Mau jadi pejabat, money politics!
Mau naik pangkat, nyogok!
Mau langsing, sedot lemak!
Mau lulus, nyontek!
Mau jadi sarjana, beli!
Semuanya mau serba instant.
Akibatnya ketika dihadapkan dengan kompetisi global. Kita keteteran.
Coba bayangkan, anak muda Singapore, dengan bahasa Inggris yang fasih, pendidikannya yang tinggi, dan etos kerjanya yang luar biasa, memasuki bursa kerja di Indonesia. Apa kita masih kebagian pekerjaan?
Coba bayangkan akuntan-akuntan dari India yang pintar-pintar dan tidak mahal, berombong-rombong masuk ke Indonesia. Bagaimana kita?
Tidak ada cara lain, jika ingin meningkatkan competitiveness, kita harus belajar dari Primus. Berproses!
Menurut saya, olahraga adalalh merupakan bentuk kehidupan dalam miniatur. Yang saya maksud dengan olahraga bukanlah sekedar jalan santai. Melainkan olahraga kompetisi baik individual maupun team. Olahraga yang membutuhkan penetapan target-target yang terukur, rencana tindakan, konsistensi, dan seterusnya.
Seperti Primus yang menginginkan perutnya six pack.
Di olahraga kompetitif, jelas sekali tidak ada jalur pintas. Semuanya harus berproses, semuanya harus bekerja keras untuk menjadi juara.
Di olahraga kompetitif, kita diajarkan sportif. Menerima kegagalan dengan legawa dan bersiap untuk kompetisi selanjutnya.
Dengarlah komentar Roger Federer ketika dikalahkan oleh Rafael Nadal. Katanya “Saya tidak tampil buruk, namun Nadal luar biasa sekali hari ini. Saya harus mengucapkan selamat kepadanya, namun saya akan kembali ke lapangan, memperbaiki serve saya, dan saya akan mengalahkannya di pertandingan berikutnya”.
Komentar yang sportif, mengaku kalah namun tetap bersemangat.
Bandingkan dengan prilaku para politisi kita yang pada awalnya membuat kesepakatan ‘berani kalah’, namun ketika kalah beneran mengerahkan preman-preman untuk mentetor pemenang sebenarnya.
Bandingkan dengan para pemimpin yang tidak berani ‘salah’, sehingga selalu cari aman saja. Tidak berani berinisiatif dengan resiko gagal, karena kegagalan baginya berarti dunia kiamat.
Akibatnya instansi yang dipimpinnya, baik itu lembaga pemerintahan, bisnis institusi, menjadi instansi yang tidak ada gregetnya. Daripada melakukan sesuatu dan salah lebih baik diam saja. Understanding-nya adalah tidak melakukan apa-apa adalah emas!
Bayangkan kalau prilaku seperti itu berkompetisi dengan rekan-rekannya yang global, kalau di bisnis misalnya harus berkompetisi dengan Steve Jobs dari Apple misalnya.
Jadi Mas Bayu, selain membudayakan membaca, kita dan anak-anak kita harus dibiasakan menghargai proses. Masyarakat kita harus dibiasakan untuk tidak membiarkan proses instanisasi ini berlanjut. Yang kaya korupsi kita kucilkan, yang money politic jangan dipilih kembali, yang langsing sedot lemak kita ledekin, yang nyontek di drop-out, yang sarjananya beli kita ketawain, dan seterusnya.
Di olahraga, yang doping dicabut gelarnya.
Bukan sebaliknya kita cenderung mengagungkan orang kaya, tak peduli dari mana asal kekayaannya. Kita senang dengan gelar-gelar yang dijual oleh universitas-universitas bohong-bohongan dari luar negeri. Kita merasa kalau sudah punya gelar berarti sudah pandai. Kakak saya yang perempuan dulu kalau anaknya ulangan umum di sekolah, ikutan sibuk cari bocoran supaya anaknya lulus.
Kalau kita mau tetap eksis sebagai sebuah bangsa yang bermatabat, dan bisa bersaing dengan bakat-bakat global, masyarakat kita harus dibuat sadar, semua harus ada prosesnya, seperti Primus.
Cara belajarnya adalah dengan mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahara. Dan yang saya maksud bukanlah jalan santai.
There is no short cut!



