Terima kasih atas jawaban Pak Alex pd e-mail saya.Saya setuju dg
pernyataan Pak Alex bahwa hrs menetapkan prioritas dlm setiap
kerjaan,tetapi kenyataan di Bali banyak masyarakat lokal Bali lebih
memprioritaskan kegiatan2 adat(karena takut akan sanksi adat) daripada
mengasah kemampuan utk meningkatkan daya saing di dunia kerja thd para
pendatang,sehingga banyak warga lokal Bali akhirnya berlomba-lomba
mencari kerja yg “santai” atau mengandalkan warisan orang tua utk
hidupnya.
Dari hal inilah keprihatinan saya akan daya saing masyarakat lokal
Bali muncul,karena bukan tidak mungkin Bali akan seperti Jakarta
dimana orang betawi hanya bisa menjadi “penonton” terhadap globalisasi
sektor tenaga kerja! hanya sedikit yg bisa bersaing dan sukses!
Menurut Pak Alex sudah tepatkah pilihan prioritas sebagian masyarakat
lokal Bali?dengan hanya memilih sektor pekerjaan yg “santai” daripada
bekerja keras utk ikut bersaing dengan pendatang, mendapatkan sektor
pekerjaan yg lebih mapan?
“Bayu Indrajaya” (email) bayu.indrajaya@gmail.com
______________________________________________________________
HIDUP ADALAH PILIHAN!
Mas Bayu, pertanyaan tadi sering mengusik saya. Mengapa orang dari latar pendidikan sama, status keluarga yang relatif sama kemudian nasibnya berbeda-beda.
Mengapa ada yang sukses dan ada yang gagal dan ada yang biasa-biasa saja.
Menurut saya hidup adalah pilihan. Setiap saat kita harus memilih. Makanya saya mengatakan it’s all about priority. Prioritas hidup kita akan menentukan pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup kita. Setiap pilihan mengandung konsekuensi. Setiap tindakan mengandung konsekuensi.
Seorang teman saya bercerita bahwa ia sekarang memiliki 5 perusahaan. Ada perusahaan dealership sepeda motor, pabrik vulkanisir ban, kontraktor water heater untuk industri-industri, dealership sparepart motor, dan penyalur pipa-pipa untuk perusahaan minyak. Semua bisa diperolehnya karena berkongsi. Bekerja sama. “Bekerja sama berarti memperbesar kapasitas”, demikian ceritanya kepada saya.
Saya mengerti secara rasional, bahwa dengan bekerja sama/partnership saya akan jauh lebih cepat berkembang. Namun secara emosional saya tidak nyaman dengan ‘potensial konflik’ yang mungkin terjadi.
Sementara teman saya menganggap bahwa potensial konflik merupakan masalah managemen yang bisa dipecahkan, saya menganggap potensial konflik merupakan pengkhiatan personal.
Teman saya terus saja berpartner, saya memilih berkembang dengan kekuatan sendiri.
Kedua pilihan yang berbeda tadi mengakibatkan hasil yang berbeda. Teman saya berkembang dengan 5 perusahaannya sementara saya masih di Bali saja mengurusi BPRLestari.
And I have to live with that!
Terkait menangani masalah keuangan, menurut saya, seharusnya merupakan prioritas utama. Banyak masalah rumah tangga bubar akibat urusan keuangan yang tidak beres. Suami istri berpisah, saudara bertengkar akibat urusan uang. Mau beribadatpun lebih nyaman jika urusan yang satu itu sudah beres. Jika concernnya adalah berbuat sosial, dengan uang kita bisa lebih bermanfaat terhadap lingkungan. Sejujurnya apapun prioritas hidup kita, urusan uang harus beres dulu.
Walaupun uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang!
Dan kalau kita mau jujur terhadap diri sendiri, bukankah alasan ‘adat’ atau ‘ngayah’ sebenar-benarnya cuma dijadikan alasan untuk menjustifikasi kegagalan atau kemalasan kita.
Jadi silakan kita menentukan sendiri pilihan-pilihan kita. Dan ingat setiap pilihan menentukan hasil. Hasil menentukan akibat. Dan jumlah total akibat-akibat sepanjang rentang hidup kita disebut sebagai takdir.
Sebenar-benarnyalah, kita sendiri yang menentukan takdir kita.
Salam dan semoga bermanfaat.



