Ada ungkapan”pembeli adalah raja”tapi bagi teman saya ungkapan itu
sudah kuno,dia mengatakan bahwa”pembeli adalah partner bisnis”.Bagi
dia kedudukan pembeli dan penjual adalah sama,tidak ada yg merasa
lebih tinggi atau rendah,semua sama2 saling menguntungkan.
Banyak wiraswasta lebih memperhatikan pelayanan kpd konsumen/pembeli
daripada melihat apakah produk yg dijual itu mempunyai nilai manfaat
bagi pembeli.
Saya akan menjadi nasabah BPRnya Pak Alex jika saya tertarik pd produk
yg ditawarkan meskipun pelayanan yg diberikan tidak sebaik BPR
lain,tapi saya tidak akan menjadi nasabah BPRnya Pak Alex jika produk
yg ditawarkan tidak membuat saya tertarik meskipun pelayanan yg
diberikan melebihi BPR lain(ini hanya contoh).
Jadi seberapa penting peran pelayanan bagi konsumen/pembeli untuk
usaha perdagangan(bukan usaha jasa) karena mereka memerlukan barang yg
kita jual bukan pelayanan?
from :”Bayu Indrajaya” ( email : bayu.indrajaya@gmail.com )
_____________________________________________________________________
Yes, I agree dengan anda. Pembeli adalah partner bisnis. Bukan raja. Kalau ada pembeli yang ‘tidak cocok’ dengan kita, usir saja.
Kalau kita belajar marketing ada rumusan klasik 4P. Produk, price, place dan Promotion.
Penyusunan 4P dengan menempatkan Produk pada urutan pertama bukannya tidak disengaja.
Prioritas tetaplah di produk.
Ketika produknya superior, maka 3P yang lainnya menjadi tidak relevan. Bukankah begitu? Berapapun harganya orang akan beli. Tanpa promosi orang tetap akan cari.
Ada industri-industri yang fokus kepada development produk. Industri farmasi misalnya. Ketika Pfizer berhasil menemukan viagra, harganya menjadi tidak relevan. Tanpa after sales service-pun orang berebut membelinya.
Masalahnya adalah ketika produknya sama dengan produk toko sebelah. Apa yang harus kita lakukan?
Ketika produk-produk menjadi sama (commoditized), maka menjualnya menjadi semakin susah. Seperti menjual beras (barang komoditi). Satu-satunya cara adalah perang harga. Perang harga habis-habisnya tidak pernah menguntungkan.
Pebisnis yang selalu mencari cara untuk keluar dari commodity trap tadi. Istilah kerenya adalah mendiferensiakan dirinya.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari perangkap komoditi, diantaranya inovasi dengan menggunakan teknologi. BCA berhasil keluar dari komoditi dengan ‘heavy investment’ pada teknologi dan networknya. Sehingga berapapun bunga Tahapan orang enggak pusing. Apa pelayanan di counter BCA baik? Tetapi kita tetap perlu Tahapan untuk bertransaksi.
BPRLestari tidak mampu membuat ATM di mana-mana, tidak punya uang untuk invest besar-besaran di teknologi. Tidak punya budget untuk membayar Maudy Kusnadi menjadi bintang iklannya, maka ia mendiferensiasikan diri dengan membuat kolom Money&You. Seketika ia menjadi BPR yang berbeda dengan yang lainnya.
Differensiasi dengan design dilakukan dengan sangat baik oleh Apple. Bukankah iPod itu hakekatnya MP3 player biasa.
Buat saya yang berada di industri perbankan (produk-produk perbankan adalah produk-produk yang generik, commoditized). Hampir sulit buat sebuah bank untuk membedakan produknya dengan bank yang lain. Dan ketika sebuah produk diluncurkan, semua orang yang bisa menggunakan kalkulator bisa membuat produk serupa.
Makanya buat kami di Lestari, ’service’ kita akan jadikan sebagai cara kita mendiferensiasi diri kita. Bagaimana caranya, sedang kita usahakan. Salah satunya dengan menjawab e-mail anda ini.



