Profit Made When You Buy – Robert T Kiyosaki
Bumi gonjang ganjing!
Amerika, the land of the free and the home of the brave, mengalami kebangkrutan. Bank-banknya terpaksa harus di-bail out oleh pemerintahnya. Perusahaan yang sudah berumur ratusan tahun menyatakan dirinya bangkrut. Washington Mutual, bank yang size-nya 10 kali Bank Mandiri juga menyatakan bangkrut. Dan seterusnya.
Karena size-nya yang begitu besar, dan karena the world is flat (kata Thomas Friedman), dunia keuangan global yang interconnected, maka kekisruhan di Amerika sama dengan segera menjalar ke seluruh dunia. Eropa dilanda kepanikan, kemudian Asia dan kita di Indonesia juga merasakannya.
BEJ terjun bebas. Harga kapitalisasinya sudah berkurang 818 Triliun, dibandingkan posisi tertingginya. Jadi kekayaan orang Indonesia (yang memegang saham) hilang 818 Triliun. Sampai-sampai BEJ dihentikan perdagangannya selama 2 hari untuk menenangkan para investor.
Perbankan menjadi was-was. Jangan-jangan akan ada penarikan besar-besaran seperti di tahun 1998. Akibatnya semua bank menjaga mati-matian likuiditasnya. Kredit seret, suku bunga melonjak gila-gila-an.
Kurs USD vs rupiah bergejolak. Terutama sekali disebabkan karena keluarnya modal asing dari BEJ yang dikonversikan ke USD dan kembali ke rumahnya di Amrik sana.
Masyarakat kembali panik. Orang mulai bergunjing bahwa kurs USD yang nanti mencapai 12,000 bahkan 15,000. Toko emas diserbu pembeli. Jadi walaupun stok emasnya tidak cukup, resi toko cukuplah.
Money changer, bank dan toko emas diserbu pembeli
Saya berdiskusi dengan salah seorang nasabah BPRLestari mengenai kepanikan untuk membeli dollar ini. Ibu Taman, nasabah saya yang baik hati yang hari itu memberikan mangga hasil kebunnya, berkata “mengapa membeli barang yang lagi naik harganya?”.
Oh yah pikir saya. Bagus sekali analoginya. Mengapa membeli barang yang sedang naik. Seharusnya membeli barang yang sedang turun harganya (tetapi valuenya tidak turun). Kita, para investor, bisa mengambil keuntungan dari krisis ini. Membeli barang yang sedang turun harganya, tetapi value sebenarnya tidak turun.
Akan ada property dan real estate yang harus dijual oleh pemiliknya karena proyeksi bisnisnya terkoreksi. Akan ada bisnis-bisnis yang ‘on sale’.
Saham bank-bank yang bagus, yang tidak punya eksposure di keuangan global seperti BRI dan BCA harganya kini terdiskon.
Apa hubungannya Telkom dengan krisis ini, kok sahamnya ikut-ikutan jatuh.
Seperti kata Robert Kiyosaki, profit made when you buy. Keuntungan diperoleh ketika kita membeli, bukan pada saat menjual.
Bandingkan dengan membeli dollar. Kita tidak tahu apakah harganya akan naik. Saya sampai sekarang tidak mengerti mengapa yang problem Amerika, kursnya malah menguat.
Penjelasan yang masuk akal atas gejolak USD ini adalah karena adanya permintaan USD yang besar akibat konversi dana yang ditarik dari pasal modal untuk kembali ke asalnya. Jadi ini adalah reaksi sesaat atas aliran modal asing yang pulang kampung. Tidak ada penjelasan yang masuk akal bahwa rupiah akan terus menerus melemah.
Sebenar-benarnya kita ‘berjudi’. Dan ketika kita membeli, kita membelinya dengan kurs jual, dan ketika kita menjual, kita menjualnya dengan kurs beli. Yang untung sebenarnya money changer dan bank.
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat!




By Jayadi on Oct 22, 2008
Salam Dasyat Pak Chandra!!
Perkenalkan, saya adalah seorang karyawan swasata di sebuah perusahaan kontraktor, umur 25 tahun. Beberapa minggu yang lalu saya diajak oleh salah seorang paman saya yang memiliki perkebunan kopi di Tabanan untuk melihat-lihat perkebunannya. Waktu itu saya ditawari untuk membeli sebuah perkebunan milik salah seorang temannya yang akan dijual.Luasnya sekitar 1 hektar. Saya amat tertarik mengingat lokasinya cukup strategis dan hasil perkebunan tersebut lumayan bagus. Harga yang ditawarkan membuat saya sedikit kaget. Jika saya bandingkan dengan luas, harganya sebanding dengan harga tanah 3 are dikawasan sunset road kuta. Paman saya mengatakan bahwa ini cocok untuk investasi karena harga tanah akan naik terus dan ini juga merupakan sebuah aset karena perkebunan ini terus menghasilkan setiap tahun.Saya ingin sekali memembeli perkebunan tersebut. Tetapi yang menjadi tantangan saat ini adalah saya belum memiliki sejumlah uang seperti harga yang ditetapkan.Saya berniat mencari kredit, namun ibu saya kurang setuju dan kami tidak memiliki agunan yang cukup. Saya minta saran dari pak Chandra, mungkin ada solusi yang bisa membantu saya untuk mendapatkan tanah tersebut.Satu pertanyaan saya, apakah ini salah satu sarana investasi yang baik selain emas, property, dan saham?
Sekian surat saya dan maaf jika kepanjangan.Saya tunggu jawaban dari pak Chandra.
Terima kasih perhatiannya dan sukses selalu untuk BPR Lestari.