BELI SAHAM ATAU BELI DOLAR, ATAU …?
Teman saya yang baik, yang juga menjadi agent saya di investasi property, Enny menanyakan “dalam situasi seperti ini, apa yang harus kita lakukan dengan uang saving account kita, atau jika kita punya pinjaman harus ngapain?”
Teman saya, Andy ‘Akong’ Susanto menelpon pagi-pagi sekali, “bagaimana kalau saya ber-investasi di dollar. Kayaknya dollar akan ke 15,000”. Siang harinya, beberapa nasabah menanyakan “kalau dollar ke 15,000 bukankah bunga deposito bisa mencapai 70% seperti krisis tahun 1998 lalu?”
Krisis menimbulkan ketidakpastian. Uncertainty. Business is not usual. Guidance-nya apa? Tidak ada. Tidak ada straight answer.
Saya meyakini, kejatuhan rupiah sifatnya temporer karena dipengaruhi oleh permintaan dollar secara signifikan dan mendadak di seluruh dunia. Kalau dahulu dari Amerika dana mengalir ke seluruh dunia, sekarang adalah arus balik dari seluruh dunia kembali ke Amrik. Sama seperti arus balik Lebaran yang menyebabkan macet di mana-mana, arus balik modal ini karena secara serentak menimbulkan prahara di negara yang ditinggalkannya. Itu yang menjelaskan mengapa Amerika yang bangkrut tetapi kurs dollarnya menguat. Tidak ada strong answer yang menjustitifikasi bahwa kurs rupiah secara fundamental akan terus jatuh.
Saya yakin bunga tidak akan ‘menggila’ sampai ke level 70%. Target kerja bank sentral adalah inflation targeting. Mengelola inflasi. Jadi kenaikan BI rate ditujukan untuk meredam inflasi bukan untuk mengendalikan kurs (ini yang menyebabkan mengapa BI menaikkan BI rate sementara negara lain menurunkan suku bunga acuannya). Jadi bunga mengacu kepada inflasi, bukannya kurs. Selama impor kita terkendali, terutama untuk bahan pokok, maka kenaikan kurs dollar tidak secara signifikan berpengaruh terhadap harga-harga. Jika inflasi terkendali, tidak ada alasan menaikkan suku bunga secara dramatis.
Adapun kenaikan suku bunga yang sekarang terjadi adalah akibat efek langkanya likuiditas dan faktor uncertainty. Bank-bank merasa tidak nyaman karena dibayangi oleh faktor panic rush dan kemungkinan konversi nasabah-nasabah besarnya untuk dialihkan ke portofolio yang lain (saham, emas, valuta asing). Jadi karena kondisinya uncertain, semua bank pegang cash walaupun harus merugi. Likuiditas jadi ketat, bunga naik. Tapi saya percaya itu sementara. Bank Indonesia sudah membuat kebijakan untuk melonggarkan likuiditas. Kita akan lihat 3 bulan kedepan. Seharusnya sudah ada dampak bunga deposito akan turun.
Dari sisi kebijakan sebenarnya akan lebih baik lagi jika untuk sementara seluruh simpanan dijamin tanpa batas nominal. Bank masih dihantui ketakutan jika nasabah-nasabah besarnya mengalihkan dananya ke Singapore yang memberikan guarantee unlimited. (jumlah nasabah yang simpanannya di atas 2M mungkin hanya 1%, namun yang 1% ini kemungkinan nilai simpanannya lebih besar dari 99% nasabah penyimpan di bawah 2Milyar).
Beli saham bagaimana? Harusnya sekarang adalah waktunya ‘belanja’. Banyak saham-saham yang harganya ter-discount. Misalnya saham BCA. Harganya sempat mencapai Rp.3,600. Per 28 Oktober (ketika artikel ini ditulis) harganya 2,025. Sudah terkoreksi 44%. Sebagai ilustrasi, saya bisa sampaikan bahwa dengan adanya perubahan kebijakan BI atas Giro Wajib Minimum, maka BCA akan kelebihan dana sekitar 4,8T. Yang tadinya diharuskan BI untuk disimpan di giro BI dengan bunga 0%; sekarang bisa di-place di pasar uang dengan suku bunga 12%-an. BCA berpotensi mendapatkan windfall profit lebih dari 500Milyar setahunnya. Jadi untuk perusahaan yang akan mendapat windfall profit seperti itu, seharusnya harganya naik, bukannya malah turun. (silakan mengambil keputusan sendiri, jika untung nikmati sendiri, kalau rugi jangan menuntut saya).
Menurut saya, selama situasi uncertain, kita harus mempertahankan fokus dan objective kita. Lakukan due diligence sendiri, kemudian ambil tindakan secara bijaksana. Jangan bertindak berdasarkan ‘kepanikan’ dan ‘bisik-bisik tetangga’.
Semoga bermanfaat. Salam.



