Fokus merupakan strategi untuk menang, diversifikasi adalah strategi agar tidak kalah.
Bapak/Ibu sekalian, dalam tiga edisi Money&You yang lalu, saya menulis bagaimana caranya memulai bisnis. Langkah pertama, adalah mendapatkan pegalaman. Statistik membuktikan bahwa 90% dari usaha yang dirintis oleh orang yang mempunyai pengalaman di bidangnya sukses.
Langkah kedua, adalah mendapatkan malaikat (angel investor) yang percaya dengan kredibilitas dan kompetensi kita, dan mau berinvestasi pada usaha yang akan kita rintis. Sangat tidak disarankan untuk memulai bisnis dengan mengandalkan modal pinjaman dari bank.
Karenanya mulailah kecil-kecilan dulu. Pinjaman akan datang dengan sendirinya jika bisnis modelnya sudah teruji.
Selama merintis usaha, manage lifestyle kita. Harus ada sebagian laba yang diinvestasikan. Tanpa investasi tidak akan ada growth. Jika tidak pernah menanam, bagaimana mungkin bisa panen.
Setelah itu pilihlah bidang usaha yang sesuai dengan kompetensi kita. Jika memungkinkan di bidang dimana kita mempunyai passion.
Di awal-awal kita merintis sebuah usaha, motivasi lebih menonjol dibandingkan strategi. Semuanya masih dikerjakan sendiri. Omzet tidak menentu. Sisa hasil usaha hanya mampu menutup biaya. Kerja keras hasil sedikit.
Tanpa passion, sulit kita bertahan di periode awal ini.
Ketika usaha mulai berjalan, target kita adalah mendapatkan bisnis yang break even, dan sustain.
Kata kuncinya menurut saya adalah break even (impas), dimana profit sudah bias menutup semua biaya-biaya, dan sustain. Sustain artinya bertahan secara terus menerus. Tanpa sustainability, maka pekerjaan kita masih jauh dari selesai.
Kesalahan yang sering terjadi adalah, ketika bisnis mulai running, si business owner kadang kehilangan fokus. Ia kemudian mendiversifikasikan usahanya. Tujuannya sebenarnya adalah agar mendapatkan hasil tambahan.
Yang terjadi justru sering kali sebaliknya. Usaha lain yang dirintis sering kali gagal, sedangkan usaha awal yang baru berjalan baik menjadi kedodoran. Jika tidak cepat banting setir, bisa-bisa bisnis awal yang sudah susah payah dirintis akan mengalami kegagalan.
Saya memilih dan menganjurkan agar kita fokus pada pilihan bisnis kita. Pengusaha kecil sekelas saya tidak mempunyai resources yang banyak. Modal terbatas, tenaga juga terbatas. Resources yang terbatas ini tidak cukup jika disebar untuk mendukung beberapa unit bisnis.
Yang saya bicarakan bukan hanya resources modal dan SDM, namun juga pikiran, konsentrasi dan mental kita.
Bapak/Ibu sekalian, dikatakan dalam buku Good to Great karangan Jim Collins, bahwa perusahaan-perusahaan yang tumbuh dari perusahaan yang biasa dan kemudian menjadi bagus dan kemudian tumbuh menjadi luar biasa bagus, antara lain karena dia menjadi terbaik atau minimal nomor dua terbaik di bidangnya.
Kita akan bisa menjadi semakin baik, semakin baik dan semakin baik, jika kita memusatkan perhatian dan konsentrasi kita pada satu titik. Fokus.
Saya percaya, strategi yang tepat untuk UKM adalah strategi fokus. Bukannya diversifikasi. Konglomerasipun, yang berhasil, walaupun mendiversifikasi, namun tetap mempunyai core competence, dan diversifikasi usahanya dilakukan diseputar core competence-nya.
Bukankah lebih baik mempunyai bisnis bakso yang paling enak rasanya, paling bagus pelayanannya, paling banyak outletnya, dibandingkan dengan punya bisnis bakso yang biasa-biasa saja, punya toko handphone yang biasa-biasa saja dan bengkel mobil.
Bagaimana menurut anda ?
Semoga bermanfaat.



