“Pay yourself first!”
Bapak/Ibu yang baik, minggu lalu saya menjelaskan mengapa saya dan seluruh jajaran staff BPR Lestari mengajak bapak/ibu sekalian untuk menabung.
Menabung adalah langkah awal dari proses investasi. Walaupun sementara orang meragukan efektivitas menabung karena returnnya yang rendah (apalagi jika diperhitungkan dengan inflasi), namun saya mempercayai tanpa saving yang cukup orang menjadi sulit berinvestasi.
Sebenarnya kegiatan investasilah yang membuat seseorang akan menikmati lompatan kekayaan. Namun kegiatan investasi akan mengandung secara intrinsic resiko. Dalam dunia investasi berlaku pamer “high risk high gain”. Untuk mendapatkan gain yang lebih besar dibutuhkan keberanian seseorang untuk menghadapi resiko yang lebih besar. Nah jika seseorang sudah mempunyai tabungan yang cukup, maka ia mempunyai bantalan penyangga (cushion) terhadap proyek-proyek investasinya. Dengan mempunyai saving yang cukup, seseorang akan memiliki ketenangan mental untuk berinvestasi.
Kegiatan lain yang mendatangkan return luar biasa sehingaa seseorang bisa mendapatkan lompatan kekayaan adalah kegiatan wirausaha (entrepreneurship).
Namun entrepreneurial ini selain membutuhkan business skills, juga mengandung resiko. Tanpa adanya cushion/penyangga maka terjun kedunia bisnis menjadi sangat mengerikan. Bagaimana kalau gagal?
Sebaliknya, jika seseorang mempunyai saving sebagai cushion, maka kalau-kalau bisnisnya gagal, orang itu tetap bisa bertahan. Karena risk-nya menjadi berkurang, maka entrepreneurial bisa ditumbuhkembangkan. Semakin banyak orang yang berani mencoba terjun ke dunia bisnis’.
Bagi orang yang tidak mau berinvestasi di bidang yang resikonya lebih tinggi, menabung tetap memungkinkan setiap orang bisa makmur. Teknik menabung yang memanfaatkan compounding interest ini hanya membutuhkan komitmen, konsistensi serta ketelatenan dalam jangka waktu yang lama. Seorang pegawai negeri tetap bisa kaya tanpa korupsi. Semua ini pernah saya jelaskan panjang lebar dalam “semua orang bisa jadi milyuner”.
Beberapa teknik menabung mungkin bisa saya sampaikan disini:
Pay Yourself First
Pertanyaan lain yang sering mengemuka adalah, ‘bagaimana saya bisa menabung jika untuk keperluan sehari-hari saja tidak mencukupi?”
Satu teknik yang menurut saya menjadi kunci keberhasilan adalah dengan membayar diri kita dulu, pay yourself first. Saya membayangkan ketika baru lulus kuliah dan bekerja di BCA, gaji awal saya adalah 750rb rupiah. Sebuah lompatan besar dibandingkan 300rb uang saku saya sebagai mahasiswa. Gaji awal saya ternyata habis setiap bulan. Bayangkan sebagai mahasiswa saya bisa hidup dengan 300rb rupiah, ternyata ketika pendapatan saya naik menjadi 750rb, saya tidak bisa lagi hidup dengan 300rb. Gaji saya 750rb habis tak bersisa.
Ketika karir saya menanjak, gaji saya juga menanjak menjadi 1,5 juta, kemudian 3 juta, kemudian 5 juta.
Ternyata kejadiannya sama dan berulang. Gaji saya habis tidak bersisa.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Bahwa sebenarnya saya sebagai mahasiswa mampu hidup dengan 300rb sebulan. Sebenarnya sebagai karyawan, jika saja gaya hidup saya masih sama seperti dulu, 300 ribupun masih mencukupi, walaupun kadang harus menumpang makan siang di rumah teman.
Ternyata ketika pendapatan saya naik, gaya hidup saya naik. Dari lifestyle 650rb sebulan menjadi life style 1,5 juta sebulan dan seterusnya.
Jadi sebenarnya, kita bisa mengusahakan menabung, jika saja gaya hidup atau lifestyle kita tidak ikut merangkak parallel dengan meningkatnya pendapatan. Atau jika lifestyle ikut naik, kenaikannya lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pendapatan.
Minggu depan, kita akan ulas beberapa teknik menabung lainnya.
Semoga bermanfaat. Salam.



