Bapak / Ibu yang baik,..
Belakangan ini masyarakat Bali dihebohkan oleh praktek ‘penggandaan uang’ yang dilakukan oleh Koperasi Karangasem Membangun (KKM). Praktek ini kemudian ditutup oleh pihak kepolisian. Kerugian atas praktek penggandaan uang berkedok ‘investasi’ ini diperkirakan ratusan milyar. Banyak masyarakat yang rugi karena uang investasinya raib dan tidak kembali. Mengingat begitu besar uang masyarakat yang diputar oleh KKM, diperkirakan perekonomian Karangasem akan terguncang.
Seyogyanya, kisah ini bukanlah yang pertama kali. Sudah berulang kali terjadi dengan skala yang berbeda-beda. Modusnyapun klasik, menjanjikan return yang menggiurkan, orang-orangpun tertarik, nasabah-nasabah awal selalu mendapatkan keuntungan. Selalu demikian, karena praktek ini mensyaratkan adanya early winner yang kemudian akan menyebarluaskan keberuntungannya, yang menceritakan betapa menguntungkannya berinvestasi di perusahaan ‘penggandaan uang’ tersebut.
Cerita akhirnya selalu mirip. Perusahaannya ditutup, pengelolanya kabur dengan uang nasabahnya. Banyak orang yang dirugikan.
Celakanya lagi, praktek perusahaan ‘penggandaan uang’ ini pada awalnya tidak terdeteksi oleh hukum, baik pidana maupun perdata. Kepolisian baru bisa bertindak setelah perusahan tersebut gagal bayar. Setelah ada laporan dari nasabah yang dirugikan. Biasanya ini sudah terlambat. Sejumlah besar uang sudah raib, sebagaian besar asset sudah dialihkan, dan pengurusnya juga sudah entah kemana.
Saya mengucapkan salut kepada Kepolisan Daerah Bali, karena tindakan yang pro-aktif dari kepolisian kali ini menyelamatkan masyarakat Bali dari kerugian yang lebih besar lagi.
Mengapa penipuan yang kasat mata itu bisa terjadi over and over again.
Ponzi Scheme
Dahulu kala ada seorang yang bernama Ponzi. Ia seorang yang cerdik. Ponzi kemudian meminjam uang kepada seorang temannya, dengan janji akan mengembalikan uangnya dengan 150% bunga dalam waktu 3 bulan (ini Cuma ilustrasi saja). Karena demikian menariknya janji si Ponzi ini banyak rekannya yang tertarik. Bukan Cuma seorang saja yang meminjamkan uangnya kepada si Ponzi, puluhan bahkan ratusan rekannya berbondong-bondong hendak meminjamkan uangnya.
Ketika pinjaman si Ponzi kepada nasabah ke-1nya jatuh tempo, yaitu 3 bulan kemudian, maka ia mengembalikan uang temannya itu, lengkap dengan bunga 150% yang dijanjikan.
Darimana Ponzi mendapatkan uang untuk mengembalikan pinjamannya itu?
Ia mengembalikan pinjamannya yang jatuh tempo dengan uang simpanan nasabahnya yang lain. Demikian juga ketika nasabah yang ke-2 jatuh tempo, Ponzi mengembalikan dengan cara yang sama. Yaitu dengan simpanan nasabahnya yang baru. Sepanjang nasabah yang menyimpan lebih banyak daripada nasabah yang jatuh tempo, secara teoritis Ponzi akan bisa memenuhi kewajibannya. Sebenarnya persis dengan teknik gali lubang tutup lubang. Membayar hutang dengan menciptakan hutang lagi. Dan ketika jumlah nasabah penyimpannya berkurang, Ponzi mulai kesulitan membayar hutangnya. Sistemnyapun kolaps.
Bapak / Ibu Nasabah yang saya Hormati, demikianlah praktek penggandaan uang, atau arisan berantai atau apapun namanya dikenal di dunia keuangan sebagai Ponzi scheme. Suatu penipuan yang umurnya sudah beratus tahun.
Pentingnya Financial Education
Ponzi-ponzi jaman sekarang bisa memperoleh mangsanya terutama karena ketidaktahuan masyarakat awam terhadap dunia keuangan dan investasi.
Simak saja pertanyaan-pertanyaan yang sering saya terima, baik lewat sms maupun per-telpon:
”Saya punya 20 juta. Saya harus berinvestasi dimana?”
”Apa tipe investasi yang direkomendasikan?”
”Bagaimana saya memulai investasi saya?”
Pertanyaan-pertanyaan tadi mencerminkan betapa awamnya masyarakat kita terhadap dunia keuangan. Tanpa pemahaman yang memadai, kita akan memandang dunia investasi sebagai dunia yang penuh magic dan tidak dapat dimengerti oleh orang-orang kebanyakan. Oleh karenanya ketika ada yang menawarkan jenis-jenis investasi (apalagi ditambahkan dengan istilah-istilah yang tidak dimengerti) kita gampang saja tergoda tanpa perlu mencernanya lebih jauh.
Saran saya atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebaiknya kita berinvestasi terhadap diri kita sendiri. Belajar dan belajar.
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat !




By yoyoksamsam on Apr 5, 2009
Sebagai masyarakat umum saya dapat menangkap ketulusan hati P. Alex dalam menshare pengetahuannya. Bravo for you…keep like this forever n you’ll always in my heart.
By Alex P. Chandra on May 22, 2009
@dear yoyok,
thank you for your comment. Keep visiting my blog. Nanti kita share lagi hal-hal yang best practises sehubungan personal finance, bisnis dan entrepreneurship.
semoga bermanfaat.