“Anda Tidak Bisa Meramalkan Masa Depan, tapi Anda Bisa Menciptakannya”
Peter Drucker
Bapak/Ibu yang saya hormati, beberapa hari saya lalu saya diundang menghadiri gathering yang diselenggarakan oleh Bank Mega. Pak Adhie, branch manager Bank Mega berbaik hati mengatur agar saya semeja dengan bos besar Bank Mega, Chairul Tanjung. Selain saya dan istri, di meja itu bergabung pula Pak Kompyang (SABA River Development), Pak Agus (Corry Nuansa), Pak Arya (MAYA Ubud).
Ada potongan percakapan yang menarik yang mau saya share dengan Bapak/Ibu sekalian, yaitu mengenai bisnisnya Pak Chairul menjual ice-cream Baskin&Robbins.
“Permintaannya (ice-cream) akan meningkat dua kali tahun depan, dan dua kali lagi tahun berikutnya”, demikian penggalan percakapan yang menarik perhatian saya.
Jadi, pak Chairul itu memprediksikan bahwa permintaan ice-cream akan meningkat terus sesuai dengan deret hitung.
“Akan menjadi life-style”, demikian lagi katanya.
Bapak/Ibu sekalian, saya teringat sebuah perkataan dari pemikir management terkemuka Peter Drucker. Katanya, “Anda tidak bisa meramalkan masa depan, tapi anda bisa menciptakannya”.
Pak Chairul mempelajari (berdasarkan informasi, dan sumber-sumber lainnya) bahwa permintaan akan es-krim akan meningkat terus. Jadi sekarang ia masuk ke bisnis itu dengan mengakuisisi merk Baskin&Robbins tadi.
Sekaranglah waktunya untuk memperbaiki sistem distribusi, membenahi management dan sebagainya sebagai antisipasi melonjaknya permintaan di tahun-tahun mendatang.
Jadi jangan heran jika di kemudian hari terbukti makan ice-cream tadi menjadi life-style, grup usahanya sudah kokoh dan siap untuk menjadi pemimpin pasar.
Dalam kasus ini, pak Chairul menciptakan masa depannya.
Pak Pribadi, salah seorang direktur BPR Lestari pernah presentasi di hadapan leaders group BPR Lestari, katanya “jika mau kesempatan besar, maka kita harus menciptakannya”.
“Kalau menunggu, paling-paling kesempatan yang kecil-kecil yang bisa didapatkan”, demikian katanya.
Bapak/ibu sekalian, belajar dari kasus Baskin&Robbins-nya pak Chairul itu, saya menyimpulkan ada tiga tipe pengusaha.
Tipe pertama adalah yang make things happen. Adalah tipe pengusaha yang merespon informasi dan merespon perubahan untuk menciptakan peluangnya sendiri. Menciptakan masa depannya. Tipe ini yang akan mendapatkan kesempatan-kesempatan besar.
Tipe yang kedua adalah yang see things happen. Adalah pengusaha tipe pengamat. Ia mempelajari informasi-informasi, mengolahnya, namun tidak meresponsnya dengan tindakan-tindakan nyata. Biasanya akan terlambat mengantisipasi keadaan. Kalaupun mendapatkan kesempatan, hanyalah kesempatan-kesempatan kecil saja.
Tipe ketiga yang paling parah adalah yang wonder what happens. Ini tipe pengusahan ketinggalan jaman, yang tidak mengerti perubahan-perubahan yang terjadi, tidak up to date informasinya, sehingga kemudian terheran-heran ketika melihat kolega dan pesaing-pesaingnya melaju meninggalkan dirinya. Dan kemudian terbingung-bingung mengapa “hidup kok semakin susah”.
Yang lebih parah lagi kemudian ‘ngrasani’ orang lain. Seperti kata pak Chairul lagi ,”orang yang sibuk ngitungin dompet orang lain sampai lupa bekerja”.
Semoga bermanfaat. Dan salam dahsyat.



