Semua Prilaku Dipengaruhi oleh Insentif
It’s economy, stupid…! Adalah tema kampanye Bill Clinton ketika bertarung melawan George W Bush (senior) dalam Pilpres US 1994. Ketika itu Bill Clinton menyindir George Bush sang president incumbent, bahwa persoalan yang dihadapi oleh Amerika adalah masalah ekonominya.
Clinton kemudian menang, dan terbukti membawa periode keemasan dalam kejayaan ekonomi negara Amerika Serikat (untuk kemudian diluluhlantakan oleh two terms presidential George Bush Jr).
Kinipun kita tengah menuju Pemilihan Presiden yang baru. Ada tiga kandidat yang bertarung, SBY-Boediono,JK-Win dan Mega-Pro.
Kita belum melihat tema kampanye masing-masing pasangan. Baru Mega-Pro yang secara nyata mendekralasikan Ekonomi Kerakyatan; sambil menyerang SBY-Boediono yang katanya ‘neoliberal’.
Namun tentunya tidak berlebihan kalau saya melihat bahwa isu ekonomi-lah akan banyak dibicarakan, diperjanjikan dan didiskusikan diantara para capres dan cawapres-nya. Isu-isu nasionalisme, revolusi, ideologi, suku dan agama kelihatannya akan hanya jadi pelengkap penderita. Masih dibicarakan namun semakin kurang relevansinya.
Nah, bapak/ibu yang saya cintai, dalam tulisan Money&You kali ini dan yang beberapa seri yang mendatang, saya akan mencoba (sekali lagi mencoba..) untuk menjelaskan beberapa prinsip ekonomi yang saya secara awam bisa mengerti. Tujuan saya adalah mencoba menterjemahkan bahasa ekonomi yang susah dan njlimet supaya bisa lebih dipahami oleh kita, kebanyakan masyarakat. Supaya kita lebih mengerti, supaya tidak mudah dibohongi oleh janji-janji kampanye, supaya kita bisa membuat keputusan yang lebih baik buat kita dan masyarakat kita.
Bapak/Ibu sekalian, prinsip dasar dari Economics yang pertama adalah bahwa semua perilaku manusia (termasuk kita) dipengaruhi oleh insentif.
Untungnya buat kita apa?
Jadi pilihan-pilihan kita, tindakan-tindakan ekonomi kita dan orang lain, selalu mengacu kepada insentif yang diterimanya. Untungnya buat kita apa ?
Pasar sendiri bekerjanya adalah berdasarkan perubahan prilaku dari pembeli dan penjual. Dan perubahan prilaku tersebut dasarnya adalah atas insentif atau dis-insentif yang diterimanya.
Contoh, jika pembeli ‘merasa untung’ ia akan membeli lebih banyak. Karena permintaan lebih banyak, harga akan naik. Karena penjual ‘merasa untung’ akibat harga yang naik, ia akan berusaha meningkatkan produksi. Sampai kemudian tercapai kestabilan.
Demikian sebaliknya, jika produksi berlebih, harga akan turun, dan si penjual akan ‘lebih untung’ jika produksinya dikurangi.
Contohnya adalah ketika harga bensin naik, maka konsumen akan mengurangi perjalanan, mengganti mobilnya dengan yang lebih kecil dan seterusnya. Sementara produsen minyak akan mengintensifkan penggalian dan pencarian sumur-sumur baru untuk segera memproduksi minyak sebanyak-banyaknya. Sampai terjadi kestabilan yang baru.
Jadi kampanye “hemat energi” hampir dipastikan gagal, jika tidak ada insentif bagi orang untuk berhemat. Dengan harga minyak yang mahal, perilaku hemat energi akan dengan sendirinya terbentuk. Sebaliknya jika minyak terus disubsidi, maka sebenarnya pelaku pasar dan konsumen, diperkenankan untuk terus boros dan tidak efektif.
Dalam jangka panjang kebijakan mensubsidi ini tidak efektif karena industri kita yang dinina-bobokan menjadi tidak kompetitif menghadapi serbuan produk dari luar negeri.
Perilaku manusia yang bergerak ke arah insentif dan dis-insentif ini akan tercermin ketika kita belanja di shopping mall, ketika ia memutuskan mau sekolah apa, berkarir di bidang apa. Insentif dan dis-insentif bisa juga dipergunakan oleh management sebuah perusahaan untuk menentukan arah dan perilaku karyawannya.
Di bilik suara pun perilaku seseorang akan ditentukan dari insentif dan dis-insentifnya. Orang akan memilih seseorang berdasarkan ‘vested interest’-nya. ‘’Untungnya buat saya apa..”. Kampanye yang terus menerus menjanjikan subsidi sebenarnya secara stategis jangka panjang tidak bijaksana. Melemahkan bangsa ini. Namun bagi sebagian besar orang, insentif jangka pendeknya lebih besar daripada dis-insentif jangka panjangnya.
Nah, kita mau pilih yang mana?
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat!



