Suatu sore saya berkesempatan minum kopi bersama dengan teman-teman. Dan kemudian saya bercerita bahwa saya membeli sandal jepit di sebuah supermarket di Kuta.
Sandalnya bagus, desainnya menarik. Makanya saya beli. Dan ketika saya ceritakan kepada istri saya, bahwa saya membeli sandal jepit seharga 25 ribu, istri saya marah. Katanya sandal jepit kok semahal itu.
Tiba-tiba teman saya tertawa. Katanya itu sandal miliknya. Dan desain yang merupakan daya tarik sandal itu merupakan kreasinya pribadi.
Wah, jadinya saya beli sandal produksi teman saya di supermarket.
Pembicaraan kemudian menjurus kepada bagaimana dia (teman saya itu) bisa menciptakan sandal jepit yang desainnya unik, dan ternyata laris manis.
Teman saya itu kemudian bercerita bagaimana timbulnya ide membuat sandal jepit dengan desain binatang. Bahwa selama ini desain-desain sandal dimonopoli oleh desain huruf, sehingga jika dibuat desain lain dengan warna-warna yang cerah, maka produknya akan menjadi berbeda dibandingkan dengan produk lain di pasar.
Bagaimana dia membuat sandal itu nyaman. “Ada dua lapisan, walaupun keliatannya satu. Yang atas sengaja dibuat empuk, supaya enak diinjak. Yang bagian bawah dibuat keras supaya tahan lama”, begitu katanya.
Warnanya dibuat cerah, supaya menarik perhatian orang.
Desainnya dibuat menarik.
Talinya dari bahan impor supaya tidak murahan. Dan seterusnya.
Kelihatan ketika bercerita mengenai produknya, teman saya itu bersemangat sekali. Saya melihat ada antusiasme yang tinggi. Saya melihat passion.
Teman saya itu mempunyai passion terhadap sandal. Teman saya mempunyai passion terhadap bisnisnya.
Bapak/Ibu pembaca Money & You yang saya cintai, passion-lah yang membuat teman saya itu tahan berlama-lama di depan komputer membuat desain-desain sandal. Passion-lah yang membuatnya tidak menyerah ketika rancangan sandal yang terdahulu ternyata gagal di pasar. Passion-lah yah yang membuat ia terus belajar.
Passion-lah yang membuat ia akhirnya berhasil.
Pak Hermawan Kartajaya berulang kali mengatakan “you have to eat, sleep and dream with your business. I eat, sleep and dream about marketing”.
Kita bisa “eat, sleep and dream” jika kita mempunyai kecintaan terhadap bisnis atau pekerjaan yang kita geluti. Tanpa kecintaan atau passion, sulit dicapai tingkatan “eat, sleep and dream” itu.
David Bekham pasti mencintai sepak bola, makanya ia tahan berlatih tendangan bebas ratusan kali setiap harinya. Akhirnya itulah yang membuatnya mahir.
Jika kunci kesuksesan sebuah bisnis adalah kompetensi, maka passion adalah bahan dasarnya. Kita tidak akan kompeteten jika tidak “eat, sleep and dream”. Dan kita tidak bisa “eat, sleep and dream” jika kita tidak mempunyai passion.
Semoga bermanfaat dan salam dahsyat.



