Kolom saya minggu lalu, Money&You 9 Sept adalah tentang Panduan Mendapatkan Kredit dari Bank.
Kalau boleh saya resume-kan inti tulisan saya minggu lalu adalah bahwa pada dasarnya kelangsungan hidup bank itu dari memberi pinjaman. Jadi bank tidak perlu disuruh-suruh untuk memberi pinjaman. Bank tidak pernah pelit. Semakin banyak pinjaman yang disalurkan semakin makmur ia.
Yang perlu dipersiapkan oleh kita sebagai peminjam adalah memberi keyakinan kepada bank, bahwa pinjaman tadi bisa kita kembalikan utuh beserta bunga-bunganya.
Jadi harus ada track record. Start up terlalu beresiko untuk dibiayai. Walaupun ada agunan yang memadai, tanpa kemampuan membayar yang justified, bank merasa mengundang masalah. Track record ini harus bisa diverifikasi.
Harus ada integritas. Jadi karakter kita merupakan jaminannya. Seringkali kredit bermasalah yang saya jumpai, bukannya disebabkan karena problem bisnis, melainkan dikarenakan oleh masalah lack of character ini.
Orang bilang , a man is as worthy as his words!
Terakhir adalah adanya agunan. Bank tidak boleh menanggung resiko bisnis. Jadi jika suatu dan lain hal bisnis kita gagal, penjualan agunan akan digunakan sebagai upaya terakhir untuk melunasi pinjaman.
Nah, kalau kita fokus dengan tiga hal di atas, hampir pasti bank akan memberikan pinjaman yang kita butuhkan. Kita mungkin tidak perlu ke kantor bank untuk meminta pinjaman, pihak bank yang akan datang mencari kita untuk memberikan pinjaman.
Keberhasilan kita untuk ‘menggunakan uang bank’ selain tiga faktor di atas antara lain dengan lebih sensitive membaca apa sih sebenarnya yang dipikirkan oleh para banker tersebut.
To see the world from their eyes of view, demikian istilahnya.
Berikut ini adalah beberapa tip yang bisa saya ceritakan untuk mempertajam keberhasilan anda ‘menggunakan uang’ bank.
Banker bukan pebisnis. Banker adalah pengelola likuiditas.
Banker sangat mementingkan cashflow. Buat mereka cashflow merupakan hal yang terpenting di dunia. Banker bukanlah pebisnis. Mereka tidak terlatih untuk melihat lika-liku bisnis. Jadi logika kitapun haruslah disesuaikan dengan logika mereka. Bisnis-bisnis dengan cashflow yang jelas, apalagi aliran cashflownya besar, misalnya supermarket, toko bahan bangunan dll lebih mudah mendapatkan pinjaman. Jika masuk ke bisnis jasa, investasi property, biasanya para banker di kantor cabang sulit untuk menganalisanya.
Cashflow bahkan lebih penting dari profit.
Taktik ini yang digunakan oleh para konglomerat. Mereka menciptakan perusahaan-perusahaan yang cash generated. Disebutnya cash cow. Sapi yang mengeluarkan uang. Bisnis yang seperti ini biasanya untungnya tipis, tetapi bank menyenanginya. Teman saya, seorang eksekutif yang bekerja pada salah seorang konglomerat, berkata “tidak perlu untung, yang penting generate cashflow!”
Dan cash cow company ini yang digunakan untuk men-justify pinjaman. Pinjamannya bisa digunakan untuk investasi lain yang lebih menguntungkan.
Banker bukan pebisnis. Banker adalah pengelola resiko.
Jika kita bicara dengan para banker, selalu yang terucap adalah ‘resikonya adalah …? Sudah sangat terlatih para banker itu untuk melihat risk. Bahkan sekarang para manager bank itu harus mengikuti pelatihan mengenai resiko. Harus lulus dan mendapatkan sertifikat.
Kita harus meyakinkan para banker tersebut, bahwa resiko untuk membiayai bisnis kita hampir tidak ada. Kita bahkan bersedia memberikan segalanya untuk menjamin kredit itu. So the risk is at ours. Resiko ada di kita, bukan di bank.
Sangat sering saya mendengar “rumah saya harganya 1M, masa saya jaminkan untuk kredit yang cuma 150 juta”.
Percayalah! bank anda tidak menginginkan rumah yang 1M tadi. Ia hanya ingin memastikan pinjamannya yang 150 juta itu risk free.
BPRLestari banyak mendapatkan pinjaman. Dan dalam kebanyakan kasus, selain track record, cashflow dan agunan, saya menambahkan personal guarantee. Artinya saya menanggung seluruh resiko kredit tadi dengan seluruh asset pribadi.
Kalau kita sendiri tidak percaya diri menanggung resiko dari business venture yang kita lakukan, masa kita mengharapkan orang lain percaya.
Ingat, persepsi para bankers adalah cashflow dan resiko. Perhitungkan dua faktor tambahan ini dalam kegiatan bisnis anda. Maka anda akan mendapatkan the biggest leverage yang disediakan dalam dunia modern bisnis.
Seperti kata senior saya bos Anugrah grup pak Eddy Lukito, “bank adalah sumber penghidupan”.
Semoga bermanfaat. Salam dahsyat!



