Chat dengan kami disini

Fenomena sandwich generation di Indonesia semakin nyata. Laporan Asian Development Bank (ADB) “Aging Well in Asia” menyebutkan bahwa 50% lansia berusia 60+ masih bergantung pada transfer keluarga dan anak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini menunjukkan bahwa banyak orang tua tidak memiliki perencanaan dana pensiun yang memadai.
Kondisi ini menjadi akar munculnya istilah Sandwich Generation, generasi yang harus membiayai orang tua sekaligus anak. Siklus ini akan terus berulang jika kemandirian finansial tidak dipersiapkan sejak dini.
1. Penghasilan Tidak Sejalan dengan Kenaikan Biaya Hidup
Kebutuhan pokok, pendidikan, hingga kesehatan mengalami inflasi lebih cepat dibanding kenaikan gaji. Banyak keluarga akhirnya menghabiskan seluruh pendapatan untuk kebutuhan harian tanpa sempat menabung untuk tabungan pensiun.
2. Minimnya Literasi Keuangan dan Perencanaan Hari Tua
ADB juga menyoroti rendahnya pemahaman masyarakat mengenai perencanaan hari tua dan dana pensiun. Kurangnya edukasi ini membuat banyak orang yang tidak menyadari pentingnya untuk menyiapkan finansial di masa pensiun.
3. Fokus Utama pada Biaya Anak dan Kebutuhan Rumah Tangga
Orang tua sering mengutamakan biaya pendidikan anak, cicilan, dan kebutuhan hidup. Akibatnya, tidak ada ruang untuk mempersiapkan hari tua, sehingga bergantung pada anak menjadi satu-satunya pilihan.
Memahami pentingnya kemandirian finansial orang tua di masa pensiun sangat diperlukan. Selama para orang tua tidak memiliki perencanaan finansial di hari tua, maka rantai untuk orang tua yang pensiun bergantung pada anak-anaknya akan sulit untuk diputus.
Berikut langkah-langkah realistis yang bisa dilakukan:
1. Mulai Menabung Secara Terstruktur
Jangan menunggu sisa uang. Karena kenyataannya, uang hampir tidak pernah bersisa. Sisihkan minimal 10% dari penghasilan di awal untuk tabungan. Dengan kebiasaan ini, dana hari tua bisa terkumpul stabil.
2. Gunakan Tabungan Berjangka agar Konsisten
Tabungan berjangka sangat efektif untuk:
Instrumen ini cocok untuk generasi produktif yang butuh sistem menabung yang otomatis dan tidak merepotkan.
3. Mulai dari Nominal Kecil, Tapi Konsisten
Tidak perlu besar di awal. Prinsip compounding interest (bunga berbunga) membuat tabungan tumbuh signifikan jika dimulai lebih awal. Sedikit demi sedikit akan menjadi modal besar di masa pensiun.
Untuk Anda yang ingin mempersiapkan tabungan pensiun dengan cara praktis, Tabungan Sikaya dapat menjadi pilihan terbaik. Tabungan berjangka ini dirancang untuk mendorong disiplin menabung dan menyiapkan tujuan finansial yang ingin dicapai
Keunggulan Tabungan Sikaya:
✅Setoran mulai dari Rp100.000
✅Bebas biaya admin
✅Jangka waktu fleksibel mulai dari 1–10 tahun
✅Suku bunga LPS Maksimal Bank Umum (3,5% per tahun)
✅ Auto-debet, jadi menabung berjalan otomatis
✅Cocok untuk menyiapkan dana pensiun atau dana jangka panjang lainnya
✅Berizin dan diawasi oleh OJK & Bank Indonesia serta merupakan peserta penjaminan LPS
Dengan menabung secara konsisten melalui Tabungan Sikaya, Anda bisa membangun dana pensiun dan tidak perlu bergantung pada anak di masa tua.
Kemandirian finansial di masa tua adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan orang tua kepada dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dengan mulai menabung sekarang dan memilih tabungan berjangka yang tepat, kita dapat memutus rantai sandwich generation dan membentuk masa depan yang lebih stabil.
Siapkan masa pensiun yang tenang dan mandiri bersama Tabungan Sikaya dari BPR Lestari.
Informasi lebih lengkap mengenai Tabungan Sikaya, 📞 Tanya Lestari di 087778811771.

Kesulitan membayar cicilan karena mengambil pinjaman di banyak tempat dengan bunga lebih tinggi? Jika Anda mengalami masalah ini, sekarang sudah ada solusinya, lho yaitu dengan memanfaatkan... Selengkapnya

Istilah passive income pasti tidak asing lagi di telinga kita. Banyak orang saat ini berlomba-lomba meningkatan pendapatannya melalui passive income. Tidak hanya perorangan, sebuah perusahaan atau... Selengkapnya

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa penyakit jantung menjadi pembunuh nomor satu di dunia dan bahkan mengalahkan keganasan penyakit kanker. Data WHO tahun 2021 menunjukan ada 17,8... Selengkapnya